Oleh Diah Trisnamayanti
Jalanku memang panjang,
Berkelok, lurus terkadang ku lihat orang terkapar lemas,
Kadang terlihat mereka berkelahi, terkadang mereka acuh tak
acuh,
Berat beban yang ku gendong setiap hari,
Adalah caraku membahagiakan hidup,
Mungkin ini jalan yang harus ku lewati.
Kadang aku menangis di tengah malam
Merintih karena lelah, ya aku hanya manusia biasa.
Ketika waktu tidur tiba, aku melihat anakku tergolek
Tubuhnya tak diselimuti lemak seperti kebanyakan remaja
Pakaiannya lusuh, karena setiap hari dipakai dan jarang
diganti,
Semangatku membara
Karena dia yang Allah percayakan padauk untuk kudidik
Kusayang, kelindungi dan kucintai saat ini,
Rasa maluku mendadak hilang
Ketika dia tak makan sebutirpun nasi di hari itu,
Lebih baik aku yang tak makan.
Aku ingin ia punya hak dan harkat yang tinggi di mata
teman-temannya
Dia selalu bilang
“Aku bahagia bila Bunda tak sakit bada lagi”
Menetes air mataku mendengarnya;
Ketika ada rezeki menghampiriku,
Aku tak pernah lupa hutangku, hidupku
Tapi anakku menarik perhatianku, aku ingin anakku bahagia
sedikit saja
Gincu merah dibelinya setelah ujian selesai dia kerjakan.
Wajahnya semburat memerah dan tampak bahagia,
Aku senang melihatnya,
Tapi Allah berkata lain, gincu itu tak boleh bersandar di
bibirnya yang halus
Gincu seharga 1liter beras untuk keluarga ku makan 3 hari
itu tertinggal di angkot
Yang membawa kami pulang.
Aku melihat wajahnya kecewa, tapi iya mampu menutupinya.
Berkali-kali dia mengusap tanganku, memohon maaf atas
ketelodarannya.
Salahkah aku?
Tidak, tapi aku tetap harus belajar dari semua
teman-temanku.
Kadang ada iri dalam jiwa, tapi itu tak lagi penting.
Aku memang harus luruskan langkah dan ikhlaskan hati karena
Allah saja.
Medio, jatinangor 19 Februari 2026.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
your opinion