Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.

Selasa, 17 November 2020

"H2C-Hello Hero Challenge"


PETUAH JITU

MENGHADAPI BELANTARA DUNIA

Oleh Diah Trisnamayanti, S.S.

Pengajar Bahasa Inggris SMK MedikaCom Bandung

Saya di lahirkan sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Ketika saya kecil, saya dan keluarga tinggal di antara masyarakat sipil di wilayah Jakarta Selatan. Kami diajarkan oleh ibu dan bapak untuk shalat lima waktu dan percaya pada Allah S.W.T dan menyayangi pada setiap manusia/makhluk Allah. Mengaji di waktu maghrib adalah kebiasaan yang dibangun oleh Ibu saya pada keempat anaknya. Itu masih kami lakukan hingga saat ini.  

Beliau setelah selesai shalat maghrib menjelang Isya selalu bercerita atau mendongeng tentang nenek dan kakek kami yang berjuang melawan tentara Belanda dan menjelaskan bagaimana peristiwa memilukan dirasakan saat gerombolan DI/TII menyerang paman dan saudara-saudara ibu kala itu. Beliau tidak menyalahkan gerombolan itu. Beliau hanya mengatakan tindakan gerombolan itu tidak terpuji dan jauh dari jalan Allah. Begitupun saat beliau menceritakan bagaimana tetangga-tetangga kami terciduk sebagai pengikut gerakan G30S PKI. Ibu dan Bapak hanya mengajarkan kepada kami bahwa tujuan yang tidak dilandasi oleh Agama dan keyakinan pada Tuhan yang Maha Esa bisa membuat manusia salah arah. Itulah mengapa mereka berdua mengajarkan anak-anaknya menghapal Al Qur’an meskipun Ibu tidak mengetahui metode terbaik untuk menghapal. Saya dan kakak-kakak disekolahkan agama ketika sore hari sepulang dari sekolah negeri saat itu.  Tujuan Ibu bukan membuat kami sibuk les. Tetapi beliau tahu kekurangan beliau yang hanya tamatan Sekolah Rakyat saja, dia ingin anak-anaknya terdidik agar menjadi orang yang selalu dirahmati Allah, lebih dari dirinya.

Ibu dan bapak bukan seorang yang kaya raya. Ibu hanya seorang perawat PNS sebuah rumah sakit ABRI, Bapak hanya seorang tentara prajurit biasa yang juga belajar sebagai perawat di rumah sakit yang sama. Gaji mereka hanya cukup untuk kami makan, maka ibu juga berjualan kelontong seadanya karena di rumah kami tinggal keponakan dan sepupu-sepupu bapak dan ibu. Hidup kami yang pas-pasan tidak membuat ibu dan bapak berputus asa. Beliau mengajarkan kepada kami semangat menjalani hidup yang diberikan oleh Allah. Menurut mereka, semua ada jalannya. Oleh karena itu kami pun diajarkan oleh mereka bagaimana susahnya mencari nafkah yang halal. Kami anak-anaknya diajarkan untuk berbagi tugas. Kakak tertua saya bertugas mengantarkan saya ke pasar membeli bahan masakan yang akan ibu jual di kantin kantor ibu. Ketika kakak tertua kuliah di kota yang berbeda, kakak ke dua menggantikan posisi kakak saya tertua sebagai pengantar ibu atau saya belanja. Adik saya tetap belajar. Setelah beranjak dewasa dan kami sudah berkeluarga tugas kami bertiga menjaga dan merawat ibu dan bapak digantikan oleh adik saya. Semua kami lakukan seperti dalam do’a ibu dan bapak agar kami berguna satu sama lain dan saling mendukung.



Mereka mengajarkan bergotong royong diantara tetangga di kampung kami waktu itu. Tanah seluas 60 meter, dijadikan tempat tinggal kami.  Bahkan Ibu selalu membagi makanan (Kue), yang didapat dari kenduri saat itu menjadi 4 bagian. Ibu memiliki filosofinya sendiri, beliau mengatakan dengan bijak kue ini di bagi 4 bagian agar “kalian berempat bisa saling merasakan bila yang lain sakit dan senang bila kalian mendapat kebaikan ketika ibu dan bapak, nanti tidak ada lagi di dunia”. Apa yang ibu sampaikan kepada kamu adalah benar-benar barakah yang luar biasa. Kami benar-benar terikat satu sama lain ketika ibu dan bapak dipanggil Allah S.W.T. masyarakat di sekitar rumah tinggal ibu dan bapak sangat hormat kepada mereka. Terkadang mereka menjadi pelopor untuk kegiatan amal di sekitar rumah dan desa di mana kami tinggal.

Ibu mengajarkan pada saya sebagai anak perempuan tertua harus mengerti memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dan menjaga adik selama ibu dan bapak kerja. Ibu saya mengajarkan anak-anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Beliau mendapatkan metode ini dengan cara berdiskusi dengan para dokter di rumah sakit di mana beliau bekerja. Pandangan dan wawasan para dokter dijadikan pegangan untuk beliau mengajarkan dan mendidik putra-putrinya sejak kanak-kanak hingga dewasa. Ibu kala itu menceritakan pada saya saat saya bingung mengambil jurusan untuk kuliah. “Diah, ambil jurusan bahasa/Sastra Inggris seperti Teteh (Keponakan ibu saya). Dengan begitu, kalau kamu tidak bekerjapun, kamu bisa mengajarkan anakmu bahasa dengan tutur yang baik, berpikir yang cerdas, dan prigel” Pesan itu yang membuat saya mengambil jurusan Sastra Inggris Universitas Nasional Jakarta, yang waktu itu Rektornya, Pujangga terkenal Sutan Takdir Alisyahbana.  Saya memang tidak lulus tepat waktu seperti teman yang lain. Ketidak adaan biaya dan harus bergantian pembayaran SPP adik, bayar kuliah kakak jadi faktor utama. Tetapi buat saya, itu mungkin cara Allah mengajarkan kepada saya agar tetap berusaha, seperti ibu dan bapak yang berusaha tanpa kenal lelah karena setiap kali pulang kerja mereka berdua meminta saya dan adik bergantian memijit mereka. Dengan cara itu, mereka menyampaikan kasih sayang kepada kami secara tidak kami duga.

Sekeras-keras dan tegasnya bapak, beliau pun mengajarkan dan mendidik putra-putrinya harus berada di posisi yang netral dalam menghadapi konflik apapun. Berani untuk mengatakan yang benar dan mampu untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Berani juga untuk menerima tantangan dari kehidupan ini. Bapak selalu mengajarkan pada kami sholat berjama’ah baik di rumah maupun di masjid saat bulan ramadhan. Bapak yang mengambil pendidikan anestesi di masa mudanya menjadi perawat mahir di bidang Anestesi. Ketika kami tinggal di lingkungan masyarakat dan di kompleks ABRI tidak satupun dari kami (anak-anaknya) mengenal obat-obatan terlarang maupun pistol. Bapak menyimpannya dengan rapi sehinga tidak satupun dari kami mengetahui hal-hal tersebut. Jika bapak sudah menempatkan di suatu tempat seperti itu, tanda bahwa barang tersebut adalah milik orang lain dan tidak boleh dilanggar. Pernah suatu kali, bapak membawa kokain satu plastik untuk persediaan di rumah sakit yang tidak sengaja bapak bawa malam setelah pulang jaga malam karena ada insiden tertentu saat itu. Kakak saya yang menemukan itu di bagasi motor vespa bapak. Dia justru mengingatkan pada bapak.“Pak, itu di kantung plastik, aku temukan barang yang tidak boleh diketahui oleh orang. Nanti bapak disalahkan, bawa barang itu. Aku simpan di almari bapak di kamar.” Kata kakak saya saat itu.  Pernyataan itu, saya ingat dengan jelas karena saya ada di dekat bapak saat itu. Entah bagaimana kakak saya bisa tahu kalau itu barang yang tidak boleh di bawa ke rumah.

Beliau meminta maaf atas keteledoran meletakkan barang yang beresiko meski itu sama anaknya sendiri sementara dia adalah aparat hukum (ABRI). Itulah hebatnya bapak saya. Dia tidak pernah memarahi anaknya bila memang salah. Tetapi beliau mengajak kami mencari solusi yang tepat dari permasalahan yang ada. Ini pun diikuti oleh kami anak-anaknya dalam menghadapi permasalahan di dalam keluarga inti maupun keluarga besar. Begitupun Ibu saya, beliau tidak berpendidikan tinggi tetapi beliau kaya akan wawasan berpikir sehingga beliau mampu membuat anak-anaknya menjadi sarjana strata satu semua. Menurut ibu, Ibu dan bapak tidak punya harta berlimpah, untuk menjadi lebih dari yang dilakukan ibu dan bapak saat itu. Bagi mereka seorang anak harus belajar kerja keras, banyak membaca, berkomunikasi dengan sopan, bisa menempatkan diri, mampu bangkit sendiri ketika jatuh, harus berbagi, peduli pada sekitar, sayang pada sesama, sayang pada lingkungan.

 Oleh karena itu, beliau berdua di masa tua sudah merelakan kehidupannya akan sepi bila keempat anaknya mulai berlayar dengan sampannya masing-masing. Mereka menjadi panutan kami ketika kami anak-anaknya menghadapi persoalan kehidupan yang nyata kami alami; baik dalam bekerja maupun berumahtangga. Mereka masih memberikan sumbangsih jalan keluar yang baik untuk semua jika mereka mampu. Bila pun tidak, do’a mereka pada Allah S.W.T. adalah bukti yang tidak bisa disangkal. Tiap dari kami ada yang mengalami jatuh dan bangun dalam hidup berkeluarga; kami pasti memimpikan mereka hadir di tengah kami. Mereka memberikan solusi yang tidak emosional. Jika ada perasaan yang emosional terjadi, mereka biasanya mendiskusikan langsung pada orangnya. Saya bangga memiliki ibu dan bapak saya yang meski bukan lah siapa-siapa di mata orang-orang tetapi mereka selalu ada untuk kami dalam hati kami dan kami selalu berjuang untuk hidup dalam kebaikan di jalan allah agar membuat mereka tetap dalam surga Allah.  

Beliau selalu mengingatkan untuk membayar utang bila memang kita berhutang dan tidak membenarkan berhutang. Belajarlah bersyukur dari apa yang dimiliki meskipun hanya sedikit. Kerja keras adalah jawabanya. Jika ada sesuatu terjadi yang tidak sesuai dengan kebijakan secara idealis, katakan sejujurnya dan jauhkan diri dari ambigu persoalan itu. Jangan mencubit bila kamu tidak ingin disakiti, adalah kata-kata bijak yang banyak ibu dan bapak sampaikan pada kami anak-anaknya dan cucu-cucunya.  Sehingga meskipun kami berjauhan tinggal kami - kakak beradik - saling mengawasi dan memberikan dukungan dari apa yang terjadi. Kami lebih sering sharing pendapat bila sesuatu terjadi.

Dasar-dasar dari pemikiran ibu dan bapak yang hanya orang biasa, membuat saya sebagai seorang guru berpikir keras ketika saya harus mendidik siswa-siswi dalam rentang usia remaja. Tiap fase perkembangan seorang anak manusia memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri. Itulah mengapa saya mengadopsi pemikiran bapak  dan ibu saya sebagai pola berpikir cerdas dalam mengatasi dilema kehidupan. Analogi cantik yang disampaikan seorang teman guru bahwa hidup layaknya sebuah hutan belantara. Sekolah itu adalah "kawah candradimuka" di mana siswa dan siswi diolah pemikirannya agar mampu menghadapi ganasnya hutan belantara yang kemungkinan ada hewan buas, jurang, kelaparan, kengerian, kelicikan, halusinasi dan lain-lain sehingga dapat keluar dengan tanpa cacat dan selamat. Selain strategi, manusia juga harus berserah diri kepada Tuhan YME (Allah S.W.T) dalam menghadapi segala persoalan. Keselamatan bukan hanya di dunia tetapi keselamatan di akhirat. Itulah pemenang sebenarnya.

Segala upaya manusia adalah proses menjadi pribadi yang lebih baik. Hello to Hero Challenge (H2C) cara terbaik menelusuri kebaikan yang muncul ketika kita hidup. Karena manusia adalah bagian dari pengelolaan sebuah peradaban yang memiliki nalar, intuisi dan akal sehat, maka jadikan diri manusia itu mulia mengelola pemikiran untuk disebarkan pada khalayak dalam kebaikan.

1 komentar:

your opinion