by Diah Trisnamayanti
Ku kira perjalanan ini butuh waktu sebentar, sudah hampir
tiga dekade yang muncul hanya kepalsuan.
Ku kira angan-angan ku sebagai rakyat jelata punya harta
berlimpah dan kerja tak susah kan terwujud nyata, sayangnya aku baru saja
terbangun dari tidur lelap di siang hari dan tak ada apapun di bakul nasi ku.
Ku kira bansos itu punyaku, hei aku tak tercatat sebagai
penerima bansos meskipun seringnya aku, istriku dan anakku menahan lapar
berhari-hari.
Ku kira tulisanku kan dapat membuatku kenyang, ternyata
hanya kenangan rasa kenyang itu muncul dalam hidupku.
Ku kira dapur istriku bisa terus ngebul, benar memang ada
kebulan asap penghisap jiwa.
Ku kira nyawaku sudah tak di bumi, benar nyawaku melayang
mencari mangsa yang bisa mengkreditkan jiwa dengan pundi-pundi rupiah hingga
peluh hilang.
Ku kira mataku salah melihat, dia melilitkan tubuhnya
pada rakyat miskin tanpa hati.
Ku kira aku tak akan jatuh miskin, nyatanya memang ini
bagian terpenting yang harus kulewati bersama istri dan anakku karena dosaku
berhutang.
Jika saja aku tak mengadakan perjanjian itu, hidupku,
istri dan anakku mungkin lebih indah dari sekuntum bunga.
Maafkan aku, istriku dan anakku; kalian korbanku yang
lain.
Persembahan hidupku hanya pada tembakau yang diiris tipis
dan dilinting dengan kertas, aku seperti kalap jika tak bertemunya.
Aku sudah tahu tak ada hal yang berguna dari tembakau
itu, tapi aku tergila-gila padanya.
Tapi waktu ku mungkin bisa dihitung dengan jariku yang
selalu bergetar jika tak menyulutnya
Maafkan aku, istriku dan anakku; kalian korbanku yang
tiada lelah mengingatkanku pada Tuhanku.
Aku tak peduli anakku punya pakaian bagus atau tidak,
makan atau tidak, sakit atau tidak, bahagia atau tidak, sedih atau tidak, takut
atau tidak.
Aku tak peduli lelahnya istriku menggantikanku menjadi
pencari nafkah, aku tak peduli banyaknya hutang istriku, aku tak peduli
rindunya istriku, aku tak peduli sedihnya istriku, aku tak peduli bahagainya
istriku; yang ku peduli, dia harus penuhi kebutuhanku.
Aku pun berpikir untuk akhiri hidup, Aku tak berdaya; ku
kira ini saatnya luruskan langkah
Aku ingin kembali, Aku ingin bertemu Tuhanku.
Aku minta ampun padanya, pada istriku, pada anakku,
karena aku telah egoin bertindak.
Aku tak tahu harus apa? Aku hanya ingin bebas dari
hutangku.
Medio, 19 Februari
2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
your opinion