Bian senang sekali ketika dia dijanjikan akan diajak jalan-jalan ke pasar kaget di desa “Cibeusi” yang selalu diselenggarakan di RW15 setiap hari Sabtu. Dia mengatakan pada ibunya kalau dia ingin sekali membeli mobil-mobilan di pasar kaget itu. Netti, seorang ibu, sangat bahagia memiliki putra seperti Bian yang cerdas, lucu, gempal dan sedikit cengeng.
Jum’at
pagi itu, Bian mengambil gagang telpon dan memencet sendiri nomor yang sangat
dikenalnya melalui ponsel ibu. Ayah Bian baru saja berangkat bekerja. Dia
seorang sopir angkot.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa suara nenek
Bian bahagia.
“Wa’alaikumsalam. Nenek aku diajak ibu ke
pasar kaget besok” ucapnya melaporkan kebahagiaannya.
“Waduh asyik, nenek diajak ndak sayang?” nenek
Suti membalas dengan pertanyaan ke cucunya.
“Nenek kan sudah tua, jadi di rumah aja.
Bian dan ibu yang pergi”
“Aduh, nenek ndak diajak. Nenek pengen
banget makan surabi Bian. Kalau nenek tidak diajak, Bian bisa membelikan nenek,
surabi sepuluh ribu ya”
“Kalau itu, Bian juga suka. Nenek kasih Bian
surabinya, satu aja?” bujuknya.
“Boleh, nanti nenek berikan satu ya. Sisanya
berapa jadinya?” tukas neneknya
“Ya, empat doong. Aku pinter kan nek?”
“Alhamdulillah cucu nenek sudah bisa
berhitung ya. Semangat terus belajar, sayang. Bian, nenek boleh bicara dengan
Ibu nak?”
“Stttt,
nenek ibu sedang bobo. Hihihi maaf ya nenek. Nenek telpon lagi aja nanti” mode
mengatur orang tua dengan mimik meyakinkan dan sangat lucu terlihat. Padahal
dia tahu, ibunya sedang mengiris tempe untuk sarapan pagi nya, sebelum dia
berangkat ke TK Melati Putih di dekat rumahnya.
Dengan santai dia melenggang menuju ruang tamu
yang besarnya kurang dari dua kali dua setengah meter. Dia bermain gambaran
sebelum berangkat ke sekolah diantar oleh ibu. Ibu nya sempat mendengar kalau
Bian berbohong kepada neneknya. Dia memanggil Bian. Bian berlari menghadap nya.
“Sayang, Bian. Ibu selalu mengatakan kalau
orang berbohong akan banyak musuh atau tidak?”
“iya.” Jawabnya singkat; dia memahami maksud
ibunya.
“Tadi Bian mengatakan apa ke nenek?”
“Ibu, Bian minta maaf ya.” Matanya
berkaca-kaca dan mulai menangis
“iya, ibu memafkan. Ya sudah. Bisa berhenti
menangisnya?” ungkap ibunya. Bian pun mengangguk. Ibu mengulang pertanyaannya
kembali.
“Bian sayang, tadi Bian bercerita apa ya ke
nenek?”
“Aku cerita ibu mau mengajak ke pasar kaget buat
beli mobil-mobilan.”
“Oh begitu, lalu nenek bilang apa?”
“Nenek bilang mau ikut juga soalnya, nenek
pengen makan kue surabi, ibu.”
“Hm. Berapa belinya nak, kata nenek?”
“Sepuluh ribu, kata nenek Bian boleh dapat
satu” ucapnya bentes
“Memang Bian tahu kalau uang sepuluh ribu
bisa mendapat berapa surabi?” tanya Ibu.
“Tahu dong, ibu. Harganya kan dua ribu satu
surabinya. Jadi kalau sepuluh ribu nenek pasti dapat lima, bu” jelasnya
Ibu
nampak terkejut. Dia tidak pernah tahu bagaimana anaknya mampu mengerti
pembagian. Dengan antusias dia mendekati Bian setelah selesai memasak tumis
tempe kesukaan untuknya.
“Bian,
ini dua ribu” ujar ibu menguji Bian
“iya. Ibu pasti pengen tahu ya, Bian ngerti
apa engga sama uang dua ribu.” Ibu terkejut kembali. Anakku sudah besar
sepertinya, dia mampu memahami apa yang menjadi pertanyaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, Ibu
Netti sudah selesai menyiapkan bekal untuk Bian ke Taman Kanak-Kanak Melati
Putih tempatnya sekolah. Adik Bian, Chika, juga sudah mandi. Bian bersiap pergi
ke sekolah diantar Ibu. Bian berjalan sambil bernyanyi sangat riang,
“Hallo-hallo Bandung, ibu kota periangan,
nana lama beta..”
“Sudah lama beta, tidak berjumpa denganmu
sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut… kembali” Ibu meneruskan
kata-kata Bian yang terputus di lagu itu. Hari ini ibu guru Susi akan melihat
anak-anak TK Melati Putih menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung.
#####
Esok
harinya, sepulang dari sekolah Bian pergi bersama ibu ke Pasar Kaget. Di sana
banyak sekali penjual berjualan. Ada penjual sandal, baju, makanan, minuman,
sayuran dan bumbu. Di dekat lapangan voli, berbagai permainan anak berkumpul.
Bian langsung menuju ke sana dan mencoba salah satu.
“Ibu,
aku mau yang ini” pintanya sambil menunjuk ke mobil truk “molen” kuning
“Berapa
harganya, pak?” tanya Ibu.
“Yang
ini, dua belas ribu dari plastik. Kalau yang agak besar ini empat puluh lima
ribu, bu”
“Kakak
Bian mau yang mana? Yang plastik aja ya, nak.”
“Aku
pengen yang warnanya kuning itu bu, itu kan bisa buat adukan untuk jalan ibu”
rajuknya.
“Uang kakak sudah
berapa?” tanyanya kemudian
“Baru ada segini” sambil memberikan lima
jarinya.
“Lima apa, nak? Mana, ibu boleh melihat kah
nak?” Bian memperlihatkan tiga lembar sepuluh ribu rupiah, dua lembar lima ribu
rupiah, tiga lembar dua ribu rupiah, empat koin lima ratus rupiah dan sepuluh
koin dua ratus rupiah, yang disimpannya di dompet besar.
“Tiga puluh deh, mang.”
Tawarnya
“Boleh bu, ambil berapa?” tanya mamang penjual
“Satu, yang kuning” Ibu memberikan tiga uang
sepuluh ribu rupiah berwarna ungu dengan gambar pahlawan Frans Kaisiepo yang
sudah mulai lusuh. Bian langsung mengambil truknya dan membelikan nenek kue
serabi. Dia mengantarkan kue surabi ke neneknya, baru kemudian pulang dengan
bahagia.
Sesampainya
di rumah, Bian langsung memainkan mobil-mobilan di halaman rumah saat itu dia
mendengar ada penjual tahu bulat. Dia meminta ke ibunya untuk dibelikan tahu
bulat tersebut.
“Tahu
bulat, digoreng dadakan. Lima ratusan” penjual tahu bulat terus menerus
menjajakan dagangannya. Bian tiba-tiba menghentikan laju perlahan mobil penjual
tahu bulat itu.
“Mang,
berhenti!” teriaknya
“Mau
beli satu boleh ga?” ungkap Bian.
“Beli lima saja, nanti ditambahkan satu” ujar penjual tahu merespon nya.
“Saya
punya uangnya cuma lima ratus rupiah, mang. Kata ibu tidak boleh banyak jajan,
uang harus ditabung,”
“Ya
sudah, boleh. Mana uangnya?” tanya
penjual tahu ramah dan tersenyum karena setelah itu, teman-teman Bian
berdatangan dan membeli tahu bulat juga.
“Sebentar,
ya mang. Saya minta dulu ke Ibu. Mamang jangan kemana-mana.” ujar Bian sambil berlari menemui ibunya.
“Ibu,
aku minta uang dua ribu rupiah.”
“Eh
buat apa? Ko banyak sekali?” ibu tidak membiasakan Bian memegang uang lebih
dari limaratus rupiah.
“Aku
mau beli tahu bulat, mamangnya sudah menunggu, ibu. Nanti dia pergi”
“Loh
ko, buru-buru? Sebentar atuh, nak” Ibu mengambil dompet dan memberikan uang kertas
dua ribu rupiah dengan gambar pahlawan Muhamad Hoesni Thamrin.
“ibuuuu.
Cepetan! teman-teman aku juga beli, nanti aku engga kebagian tahu bulatnya”
“Iya,
anakku, ini uangnya” Seketika itu juga, dia melesat berlari ke penjual tahu
bulat dan memberikan uang tersebut.
“Mamang,
ini uangnya” Bian memberikan uangnya dengan tangan kanan. Lalu melanjutkan
bicara setelah mendapat tahu bulatnya.
“Mang,
jangan lupa ya. Kembaliannya seribu lima ratus rupiah” tukasnya.
“Siip,
ini kembaliannya s-e-r-i-b-u l-i-m-a-r-a-t-u-s ya. ” ujar penjual tahu bulat.
“Terimakasih
ya, mamang.” ujarya sambil mulutnya terus mengunyah tahu bulat yang masih
hangat sedikit demi sedikit.
“Enak ya, Bi tahu nya” ujar salah satu temannya
yang sempat bermain kartu bergambar dengannya di ruang tamu.
“Kamu tadi beli berapa, Fauzan?” tanya Bian
pada Fauzan.
“Aku beli tiga tahu da. Kamu beli berapa?”
“Aku, mah cukup satu belinya. Sisa uangnya
kata ibu dan bapakku harus ditabung. Kamu suka nabung ga?
“Aku
mah, yang penting kenyang. Kalau ga kenyang nanti aku sakit gimana? Kan rumah
sakit mahal kata mama aku” jelas Fauzan sembari tersenyum.
“Kalau
jajan kata bapak tidak boleh banyak, tapi makan di rumah harus banyak.”
“Kamu
mah pelit, masa jajan cuma sedikit”
“Aku
mah ga pelit, aku orangnya baik tahu. Firman, Sinta, Udin, aku orangnya baik
kan ya?” tiga temannya hanya menatap dan tersenyum. Mereka masing-masing
membeli tahu sesuai kebutuhan mereka dan memakan dengan lahap.
“Iya,
semua teman itu baik, da” tambah Firman menguatkan pendapat Bian. Bian pun
tersenyum dan mengangkat jempol.
“Aku sudah beli mobil-mobilan tadi pagi. Kalau beli tahunya banyak, berarti aku boros. Aku mau beli yang lain untuk sekolahku, nah sekarang sisa uang ini mau aku tabung. Gitu loh, Fauzan temanku.” Jelasnya bentes.
“Oh
gitu. Okeh deh, Bian temanku. Tos dulu dong kita” mereka pun akhirnya bertos-tosan
tanda bahagia berteman. Firman, Sinta
dan Udin juga ikut-ikutan melakukan tos. Mereka kembali bermain bersama.
“Aku juga nabung. Kata guru aku, menabung itu
bagus loh.” Sinta memberikan pendapatnya dan melanjutkan bertanya.
“Kalau
kamu menabung ga Fir?”
“Aku
menabung dong, diperut aku. hahaha”
“Waah,
kamu menabungnya diperut ya? Nanti perut kamu jadi gede dong seperti gunung”
ujar Udin kemudian. Anak lainnya tertawa riang sekali.
“Eh,
kita main bola yuk?” ajak Udin pada Firman
“Hayu.
Kamu ikut ga Fauzan, Bian? Kalau kamu ga usah ya Sinta, kamu kan anak
perempuan” timbal Firman
“Aku mah pasti ikut kalau
sepak bola” balas Fauzan.
“Iya,
aku ikut” ucap Bian menjawab pertanyaan Firman.
“Ih,
Firman. Aku juga bisa main bola. Kenapa ga boleh ikut?”
“Kamu mah bantu membelikan bola plastiknya,
saja. Kalau kamu ikut main jumlahnya tidak sama Sin” jelas Bian.
“ya udah, mana uangnya kalau aku yang diminta
membelikan. Harganya berapa?”
“Ayo,
siapa yang mau udunan? Harga nya tujuh ribu”
“Aku
pulang dulu ya” Bian tiba-tiba berteriak dan berlari pulang ke rumah yang jaraknya
sekitar lima puluh meter dari halaman bermain mereka.
“Ko,
Bian pulang. Kan kita mau udunan” teriak Firman yang dibalas senyuman Bian
sambil berlari kecil
“Assalamu’alaikum ibu, bola
plastikku dimana?”
“Eh
kenapa ko teriak-teriak lagi. Bola kamu di kamar Bian. Jangan ribut ya. Adik
kamu masih tertidur” Bian berlari ke kamarnya dan menemukan bola plastik di
sana. Dia dan teman-teman bisa bermain tanpa harus mengeluarkan uang. Segera
dia keluar rumah yang sebelumnya meminta izin ke ibunya kalau dia akan bermain
bola di halaman SD Harapan Sejahtera Cibeusi, yang jaraknya limapuluh meter
dari rumahnya.
“Ibu,
aku main lagi ya bu. Assalamu’alaikum!” sambil cium tangan.
“Iya,
jam 2 pulang ya nak, Bobo dulu. Malam nanti ibu ke mall beli susu adik dan kamu”
Bian mengangguk setuju dan berlari kembali ke tempat dia meninggalkan
teman-temannya. Terlihat mereka sedang duduk dan menendang kerikil di
pekarangan SD. Mereka diperbolehkan main oleh pak Sadili penjaga sekolah dasar
itu. Bian menendng bola plastik ke arah mereka dan wajah mereka pun terlihat
bersinar menyambut Bian.
“Aku
kira kamu tidak mau udunan. Ternyata kamu ambil bola, Bian?” ujar Firman.
“Ayo
kita main teman, Sinta jadi wasit ya” ujar Fauzan kemudian. Mereka bahagia
bermain bola.
Tepat
jam 13.00 mereka sudah kelelahan bermain, mereka kemudian tidur-tiduran di
masjid dekat SD.
“Eh
kita belum sholat dzuhur loh” Udin menyampaikan sambil berjalan menuju ke
tempat wudhu. Dia berwudhu dengan baik. Kaki-kakinya yang kotor berdebu dicucinya
dengan bersih, wajah dan kepalanya basah karena berwudhu. Teman yang lainnya
mengikuti termasuk Bian, si cabe rawit. Dia mengambil sarung dan mengikatkan
sebisanya dibantu oleh Udin yang usianya memang dua tahun lebih tua dari Bian
setelah itu mereka melanjutkan permainan.
“Aku
jadi penjaga gawang ya”
“Ya,
udah” ucap Udin yang bersiap menendang bola ke arah gawang, Bian langsung
mengambil alih serangan dan Fauzan menjegal lari bola sayangnya, kaki Bian yang
terkena. Bian terjatuh.
“Aduh,
Ibu huuuuu. Aku jatuh huuuuu” lututnya terluka dan Bian menangis mengerang.
Wajahnya sedikit memerah menahan sakit. Ibu datang melihat Bian dan
teman-temanya bermain sambil menggendong dan menyuapi Chika.
“Kalau jatuh, Bian langsung bangun nak.
Semangat, jangan menangis ya, sholeh!” Ibu memberikan semangat pada Bian yang
memang mudah menangis. Bian akhirnya menghentikan tangisnya, dan bersembunyi di
belakang ibunya agar tak terlihat air mata dan suara tangis dari
teman-temannya.
“Kamu,
sih. Kenapa atuh kakinya dijegal?!” bisik Udin pada Fauzan sambil juggling bola
plastik.
“Aku
enggak jegal, igh kamu. Aku the, mau ambil bolanya pakai kaki aku ini” Fauzan
membela diri.
“Iya, kamu kekencengan ambil bolanya” bisik
Sinta yang sejak tadi hanya ikut-ikutan berlari kesana kemari ketika yang lain
bermain bola karena dia berperan sebagai wasit. Fauzan akhirnya mencoba untuk
mengajak Bian main bola kembali.
“Bian,
maafin aku ya” ujar Fauzan sambil mendekati Bian. Bian mengangguk dan menyeka
air matanya. Mereka kembali ceria dan bermain bola lagi. Ibu hanya tersenyum
melihat mereka. Mereka terlihat asyik bermain sampai pukul 14.00, Ibu mengingatkan Bian agar segera
pulang dan tidur siang.
#######
Ayah
sudah kembali setelah seharian berada di jalan
mengantarkan penumpang ke tujuannya.
“Assalamu’alaikum,
bu.”
“Wa’alaikumsalam,
alhamdulillah ayah sudah sampai” ucap Ibu pada suaminya Pak Hairi sambil
mencium tangan suaminya. Ibu sudah menyiapkan makan untuk ayah.
“Kemana anak-anak, bu?” tanya Pak Hairi.
“Sedang
tidur siang, pak.”
“Oh
Alhamdulillah” tanggap nya kemudian.
“Pak,
nanti antar ibu dan anak-anak membeli susu di Mall depan ya? Ibu sudah berjanji
untuk mengajak Bian membeli susu sekalian mengajarkan dia bagaimana menggunakan
QRIS dan ATM” jelas ibu sambil membawakan ayah handuk karena beliau terlihat
akan bersiap untuk menyegarkan tubuhnya dan shalat ashar.
“Masih
kecil, bu. Mengapa harus diajarkan?”
“Anak
kecil itu tubuhnya, di zaman gen z mah justru anak-anak lebih cepat menyerap
informasi sejak dini yah. Boleh ya, yah?” rajuknya.
“Iya,
bu. Boleh. Tapi ayah mandi, shalat ashar dan cuci mobil dahulu ya bu. Kita
perginya setelah maghrib saja, bagaimana bu?”
“Alhamdulillah,
boleh ayah.” ucapnya dan pak Hairi pun meninggalkan ruang makan mnuju kamar
mandi di bagian belakang rumah mereka, melihat istrinya tersenyum bahagia, ayah
nampak senang.
Jam
telah menunjukkan pukul 16.45 ketika ibu membangunkan putra sulungnya.
“Bian,
anakku sayang. Bangun nak. Bian mau ikut ibu dan ayah ke mall?”
“Huaaah,
bu. Aku masih ngantuk” ujarnya dengan mata masih terpejam
“Adik
kamu sudah mandi, kita akan bersiap pergi, nak. Bian berani ya ditinggal
sendiri di rumah?”
“Ibu!”
jawab Bian kemudian
“Apa,
sayang” tukas ibu lembut
“Aku
gak mau ditinggal sendirian, bu. Aku ingin ikut juga” jelasnya sambil merajuk.
“Oh
begitu, boleh. Kakak Bian sudah mandi belum?” tanya ibu ceria karena misinya
mengajak tanpa memaksa, alhamdulillah, berhasil.
“Belum,
ibu. Aku mau mandi dulu. Ibu, ayah dan adik tungguin aku ya.” ucapnya sambil
pergi mengambil handuk.
“Mandi
yang bersih, sayang. Jangan terburu-buru ya, nak. Ayah, ibu dan adik menunggu,
kok” saran ibu pada Bian sambil memberikan makan pada Chika, yang sedang
bermain di karpet. Ayah terihat baru selesai makan sore itu.
“Brrrr…”
Bian keluar dari kamar mandi berbalut handuk. Dia memang sudah bisa mandi
sendiri. Ibu pun sudah mempersiapkan baju untuk Bian. T-shirt spiderman merah
dan celana pendeknya langsung digunakan dengan cepat. Dia mengambil minyak kayu
putih dan membalurkan di sekitar perutnya. Lalu dia ambil sisir dan berkaca
untuk merapikan rambutnya.
“Ganteng
sekali, anak ibu” puji ibu pada anaknya. Bian tersenyum melihat ibunya.
“Terimakasih,
ibuku yang cantik”
”haha..”
tawa ibu melihat tingkah putra sulungnya.
“Ibu,
Ayah mana? Aku sudah siap. Kapan kita perginya?”
“Sebentar,
sayang. Kita tunggu adzan maghrib dahulu. Kita pergi setelah maghrib ya”
“Oh
begitu, ibu. Oke deh. Bian main mobil-mobilan dulu ya bu.”
“Boleh”
ayah terlihat sedang memanaskan mesin mobil angkotnya.
“kita
mau membangun rumah dan jalan harus pakai mobil molen. Mobil molen siap
meluncur zengggg, ngeeeengg. Gedubag
sreggg sreggg”
Bian
menjalankan mobilnya dan berhenti di satu tempat untuk memutar molennya sambil
mengikuti suara semen, batu dan pasir yang diaduk, seperti yang didengarnya
ketika kepala desa memperbaiki jalan di depan rumah mereka yang sederhana.
Sejak itu Bian ingin sekali naik mobil molen.
“Sambil
makan ya, sayang” tiba-tiba ibu sudah mengambil sesendok nasi dan sayur sop
ayam kesukaan Bian ke mulutnya.
“Nyam..
nyammm..” entah apa yang ada dipikiran
Bian, dia bertanya hal yang memang baru akan diberitahu pada saat nanti dia
sampai di Mall.
“Ibu,
Qris itu apa?” tanyanya mengagetkan ibu.
“Owalah,
anak ibu sudah besar. Denger dari mana QRIS?” ibu belum menjawab karena ingin
melihat seberapa besar keinginan Bian mengetahui tentang hal ini.
“ngeeeengggg…
cupak.. cupak…. Airnya dimasukin ke tankinya. Pasirnya juga dan semen; ibu
kenapa gak jawab pertanyaan Bian, sih?”
“QRIS
itu singkatan Quick Respond Code Indonesian Standard, sayang. Itu cara
pembayaran yang tidak memakai uang, anakku sayang.”
“Oh
gitu ibu. Emang bisa bu kalau Bian beli pasir pakai Qris?”
“Bisa,
sayang. Bila tokonya menyediakan barcode nya?”
“Barcode
itu apa, ibu?”
“Itu
loh. Kakak kan suka lihat, kalau di mall ada gambar garis-garis terus, kasirnya
suka kasih lampu scanner yang ada warna merah. Nah, itu adalah barcode, nak.
Itu untuk membaca data harga, stok, dan
informasi tentang produk, nak”
“Ngeeenggg…
jugjag… gubreeek, gubraak” setelah mendengar penjelasan Ibunya, dia melanjutkan
bermain mobil-mobilan.
“Bian,
sini nak!” panggil ayah dari luar rumah.
“Iya
ayah, sebentar.” Bian datang menghampiri
ayahnya.
“Kamu,
tolong ambilkan sabun saset di dekat tabung gas ya! Ayah mau cuci mobil dahulu”
perintah ayahnya.
“Siap
ayah.” Dia berlari menuju dapur dan menemukan sabun cuci untuk mobil di sana.
Langsung dia berlari ke arah ayahnya setelah itu.
“Pinter,
anak ayah”
“Aku boleh bantu, ga ayah?”
“Kamu
kan sudah mandi, jadi main saja dulu di dalam ya. Tunggu adzan maghrib, nanti
kamu shalat bareng ayah dan ibu. Baru kita pergi ya sayang”
“Jadi,
aku ga boleh bantu?”
“Tadi Bian sudah bantu ayah ambilkan sabun
kan. Sekarang giliran ayah yang bekerja. Oke?!”
“Ya
sudah lah” wajahnya nampak sedih dan lesu. Dia akhirnya masuk dan bermain
mobil-mobilan lagi sambil meneruskan makan sorenya bersama ibu dan adiknya.
Adzan
telah berkumandang di masjid dekat rumah Bian. Bian yang baru saja menghabiskan
suapan terakhir, berlari ke kamar mandi dan segera membuka keran.
“Bian..
astagfirullah!, minum dulu nak” ungkap ibunya kaget melihat Bian berlari melesat
setelah mendengar adzan. Bian tidak menjawab karena dia sedang mengambil wudhu
agar dia bisa segera pergi ke Mall bersama ibu, ayah dan adik. Setelah
mengambil wudhu dengan tertib, Bian berlari ke arah ayah yang juga sudah
selesai membersihkan mobilnya.
“Ayah,
wudhu dulu. Kita kan akan sholat berjama’ah” ucapya dan kemudian menengok
ketika ibunya memerintahkan dia untuk menggunakan sarung, kopiah dan menjaga
adiknya.
“Bian,
kamu sudah ambil wudhu. Pakai sarungmu dan jaga adik kamu sebentar ya. Ibu
ambil wudhu dulu”
“Iya,
Ibu” lalu dia mengambil sarung di lemari bajunya dan kopiah di bufet tivi di
sebelah kamarnya. Kemudian dia menggunakannya dengan cepat dan langsung
mengajak adiknya bermain.
“Ibu,
sajadah aku belum ada” ujarnya setelah ibunya kembali ke ruang tamu dan
menggeser meja ke arah pinggir agar bisa sholat bersama. Ayah juga sudah rapi
dengan pakaian yang bersih dengan kopiah dan menempatkan diri di bagian Imam.
Bian berada di belakang ayah dan ibu berada di belakang Bian sementara adik
ditempatkan ibu di samping ibu berdiri agar tidak mengganggu, ibu memberikan
mainan untuk adik. Bian mengikuti semua gerak dan mulutnya komat kamit lucu.
Ketika
berdo’a, Bian menengadahkan kedua tangannya di depan dada sambil mengucapkan
kata ‘amin’ setelah ayah berdo’a dengan suara yang keras. Selesai berdo’a Bian langsung
mengambil dan mencium tangan ayahnya. Ayah mencium kepala Bian dengan lembut
dan mengusap punggungnya. Kemudian, Bian pun mencium tangan ibunya yang
langsung memeluk dan mencium pipi Bian. Bian juga tidak melupakan adiknya, dia
meminta adiknya untuk bersalaman dengannya dan menyodorkan tangan ke arah
adiknya agar adiknya mencium tangan dia.
“Ibu,
adik Chika ga bisa salim. Tangan akunya dijilat adik”
“Iya,
adik kan belum mengerti kak” jelas ibunya sambil tersenyum.
“Ayo
bereskan sajadahnya dan kita bersiap”
Bian
segera sigap melipat sajadah ayah dan sajadah dirinya. Lalu disimpan di kontainer
khusus sajadah, Al Qur’an dan Mukena di dekat ruang makan. Ayah terlihat
berjalan ke luar dan menstarter mobilnya. Bian mengikuti ayahnya dan duduk di
samping kanan ayahnya. Sementara ibu duduk bersama Chika di samping Bian.
Mereka
melewati hutan desa, pos giro, puskesmas, dan SPBU untuk sampai di Mall. Di
SPBU ayah mengambil barcode untuk membeli bensin. Bian memperhatikan petugas
SPBU yang menscan barcode dengan seksama, lalu bertanya ke ayah.
“Ayah kenapa ayah harus kasih gambar ke bapak
itu? Memang kalau beli bensin tinggal trettt.. trettt… gitu? Ayah engga bayar?
Kasihan bapak itu kalau ayah engga bayar”
“Ayah,
bayar ko. Ini uangnya” Ayah memperlihatkan susunan uang 2000 rupiah yang rapi,
5000 rupiah dan 10000 rupiah dengan total sebanyak 50.000 rupiah.
“Jadi
itu yang trettett.. untuk apa, yah?” tanyanya lagi
“Barcode
itu gunanya untuk mengizinkan atau tidak transaksi, nak. Kalau sudah ada
izinnya, lalu petugas memberikan dagangannya dan ayah membayarkan”
“Oh.
Jadi aku boleh pake barcode itu untuk beli siomay yah?”
“Tukang
siomay menjual siomaynya hanya 2000 rupiahan, jadi bisa langsung; tidak perlu pakai
barcode. Kalau agen siomay yang buat siomay sampai berkilo-kilo buatnya,
mungkin bisa kak”
“Tapi itu ko, ada orang pakai kartu-kartu
ditempelin; dia engga keluarin uang, bu?” setelah dia pindah ke belakang angkot
tempat para penumpang duduk hanya untuk melihat transaksi jual-beli bensin di
SPBU berlangsung. Kemudian kembali duduk di samping ayahnya yang sudah
menjalankan angkotnya.
“Mana,
kak?” tanya ibu.
“Itu,
ibu. Orang yang pakai mobil di belakang. Dia engga kasih uang tapi
tempel-tempel kartu aja”
“Hahaha”
ayah dan Ibu tertawa melihat mimik Bian yang lucu karena penasaran.
“Ya,
itu namanya kartu ATM. Bapak itu punya tabungan jadi uangnya tinggal
mengeluarkan lewat kartu dengan chip, nak. Makanya beliau tidak perlu bawa
banyak uang cash, biar aman”
“Ayah
dan ibu punya tabungan kayak bapak itu engga?”
“Ayah
punya tabungan, tapi hanya untuk kamu sekolah nak”
“Ibu
engga punya?”
“Punya
dong, untuk belanja, jajan kamu dan adik, serta bayar tagihan”
“Kamu punya tabungan engga?”
“Aku
punya tapi di celengan ayam jago, bu. Aku mau punya tabugan kayak bapak itu,
bu. Boleh engga?”
“Boleh
dong, tapi nanti kalau kamu sudah masuk SD ya. Dan tidak boleh digunakan yang
tidak penting. Ibu yang pegang dan itu transaksi CeMuMuah namanya nak”
“Apa
Cemumuah, bu!”
“transaksi
Cepat Mudah Murah Aman dan Handal, maka ibu mengizinkan sayang”
“Ayah
aku boleh dong, punya ATM kalau sudah SD, Asyik. Dik Chika nanti ya, kamu masih
kecil” sambil mencium adiknya dan Ayahnya.
“Igh,
ko kamu bau asem sih. Kamu belum mandi ya?” canda ayah setelah dicium Bian di
pipinya.
“Ayah,
aku udah mandi. Bersih ko. Engga bau asem!” teriaknya
“Hahahaha
hehe, iya ayah bercanda”
“Nah sudah sampai Mall, sebentar ya. Ayah
parkir dulu” jelas ayah kemudian sambil memarkir angkotnya di bagian kiri area
parkir Mall. Ayah menggendong Chika, Ibu memegang tas kecil berisi dompet dan
kartu ATM sambil menggandeng Bian masuk ke Mall. Mereka melihat-lihat sebentar
dan langsung menuju toserba yang ada di Mall. Bian membantu ibu memegang troli
bersama ayah, yang mendudukan Chika di bagian belakang troli.
Ibu
mencari susu formula untuk Chika dan Bian, kemudian mencari minyak goreng,
bumbu-bumbu, mie instan, snack-snack manis dan asin, buah, sabun mandi
keluarga, shampoo, dan minyak kayu putih. Total belanja kurang dari 300.000
rupiah.
Bian
berjalan dengan bahagia dan memperhatikan detail apa yang ada di toserba itu.
Perhatiannya kemudian tertuju pada los mainan anak. Dia lihat bolak-balik
beberapa mainan mobil-mobilan dengan remote. Dia berpindah ke mainan telpon dan
boneka.
“Ayah,
aku boleh engga beli itu?” sambil menunjuk mainan mobil-mobilan menggunakan
remote control.
“Mana,
Yang ini?” tanya ayahnya.
“Iya”
sambil mengangguk. Ayah melihat harga mainan itu seharga 250.000 rupiah, dia
memberikan pengertian pada putranya untuk menabung dulu jika ingin membeli itu.
Dengan perasaan sedih Bian berjalan dan tidak ingin melihat los itu lagi. Ibu
pun tahu apa yang dirasakan Bian. Beliau mengajak Bian untuk membayar dengan
barcode punya nya dan membelikan Bian es krim kacang yang disukainya.
“Sini,
lihat yuk” ajak ibu
“Bian
bisa lihat cara membayar dengan QRIS, tadi siang kan Bian tanya ke ibu? Mau?”
Bian kembali ceria ketika diminta mencoba. Ibu sudah membuka, cek saldo punya
ibu, memindai barcode di kasir toserba, kemudian mengisi nominal pembayaran.
“Sini bu, aku yang kasih ke kasirnya” ibu pun
memberikan handphone ibu ke Bian agar dia yang memberikan transaksi pembayaran
yang telah ibu lakukan.
“Terimakasih”
ucap kasir pada Ibu dan Bian. Bian meloncat-loncat tanda senang karena dia bisa
menggunakan QRIS. Ibu nya tersenyum begitupun orang-orang di sekitar melihat
tingkah Bian yang lucu.
“Ibu
kasir, Cemumuah ya” katanya kemudian. Kasir toserba itu hanya tersenyum.
“Apa Cemumuah dek?” tanya pak Satpam yang membantu kasir memasukan barang belanjaan ibu.
“Cemumuah
ya itu cepat-mudah-murah-aman-handal, pak satpam” jelasnya pelan-pelan ke
satpam sambil membawa kresek berisi snack manis dan asin serta susu miliknya.
Kreseknya nampak lebih besar dari badannya, tetapi dia coba untuk tetap
memegangnya.
“Oh,
transaksinya pakai ATM dan QRIS jadi Cemumuah ya?” lanjut satpam menggoda Bian.
“Iya, pokoknya Cemumuah” ucapnya sambil
mengayun-ayunkan plastiknya. Tidak ada lagi wajah sedih di wajahnya.
“Terimakasih,
Sudah berbelanja ke sini!” ucap Satpam pada semua pembeli ke toserba itu,
termasuk pada Bian dan keluarga.
Mereka
pulang dengan hati bahagia. Ayah telah sampai di rumah kembali dan Bian
tertidur di kursi penumpang dekat ayah bersama ibu, begitupun Chika, tidur
digendongan ibu. Ayah membawakan barang-barang belanjaan dan Ibu menggendong
Chika untuk menidurkan di kamar, baru kemudian mengambil Bian untuk ditidurkan
di ranjang milik Bian di kamar yang sama dengan Chika.
Hari
itu Bian memiliki banyak pengalaman baru, bagaimana dengan kalian? Belanja
sesuai kebutuhan dan jauhi pemborosan agar rupiah bisa terus mengalir dengan
baik di masyarakat.
😍😍
PROFIL
PENULIS
Tahun
2020, penulis bergabung di bincang edukasi bersama Prof R. Indrajit, AISEI dan
Kelas Kreatif.. Sejak saat itu penulis terpacu menulis tantangan di blog setiap
hari maupun menulis buku. Inspirasi dan bimbingan menulis dari senior writers, Prof. R. Indrajit, Sri
Sugiastuti, Wijaya Kusuma, Rita Wati, Ibu Genderia Hutasoit, teman-teman
penulis blogger di AISEI2 dan nara sumber pengisi webinar Nasional di
AISEI. Menulis banyak artikel di
Kompasiana sebagai Junior yang mulai debut, belakangan jarang mengisi karena
banyak peluang lomba menulis maupun membuat design batik yang dilakukan
penulis.
Buku/Audio yang
pernah diterbitkan:
1.
Klub Ngopi-Ngopi
2.
Antologi Model
Belajar AISEI: “Morse
Code Play dalam 75 Indonesia Maju,
3.
Antologi Travelling : “Sejuta Pesona Nusantara”,
4.
Antologi
AISEI : Cernak Jujur Itu Keren “Boleh bertanya?”
5. Antologi FMA : Cerpen “Cinta Pertama: Sepenggal Kisah Belum Usai" dan “Cerita Misteri”
6.
Artikel :
Anakku Indahnya Duniamu,
7.
Artikel :
Cinta Rupiah Legalitas Pengamanan
Identitas Negara
8. Monolog Drama : Are You Going To Take Profit? https://www.youtube.com/watch?v=mZSM7t3o3mY
Kompasiana Blog: Sandal Jepit Biru (https://www.kompasiana.com/diahtrisnamayanti6384/66206b2fde948f15c7117ea2/sandal-jepit-biru?page=all) / https://www.kompasiana.com/diahtrisnamayanti6384
Kumpulan Puisi-Puisi: https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7
Kumpulan cerpen : https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7
Kumpulan Artikel : https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7










Tidak ada komentar:
Posting Komentar
your opinion