Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.

Selasa, 07 April 2026

TRUK MOLEN BIAN DARI PASAR KAGET

oleh Diah Trisnamayanti

illustrated by Andini PB.

  

Bian senang sekali ketika dia dijanjikan akan diajak jalan-jalan ke pasar kaget di desa “Cibeusi” yang selalu diselenggarakan di RW15 setiap hari Sabtu. Dia mengatakan pada ibunya kalau dia ingin sekali membeli mobil-mobilan di pasar kaget itu. Netti, seorang ibu, sangat bahagia memiliki putra seperti Bian yang cerdas, lucu, gempal dan sedikit cengeng.

illustrated by Andini PB.

Jum’at pagi itu, Bian mengambil gagang telpon dan memencet sendiri nomor yang sangat dikenalnya melalui ponsel ibu. Ayah Bian baru saja berangkat bekerja. Dia seorang sopir angkot.

    “Halo, assalamu’alaikum” sapa suara nenek Bian bahagia.

    “Wa’alaikumsalam. Nenek aku diajak ibu ke pasar kaget besok” ucapnya melaporkan kebahagiaannya.

    “Waduh asyik, nenek diajak ndak sayang?” nenek Suti membalas dengan pertanyaan ke cucunya.

    “Nenek kan sudah tua, jadi di rumah aja. Bian dan ibu yang pergi”

    “Aduh, nenek ndak diajak. Nenek pengen banget makan surabi Bian. Kalau nenek tidak diajak, Bian bisa membelikan nenek, surabi sepuluh ribu ya”

    “Kalau itu, Bian juga suka. Nenek kasih Bian surabinya, satu aja?” bujuknya.

    “Boleh, nanti nenek berikan satu ya. Sisanya berapa jadinya?” tukas neneknya

    “Ya, empat doong. Aku pinter kan nek?”

    “Alhamdulillah cucu nenek sudah bisa berhitung ya. Semangat terus belajar, sayang. Bian, nenek boleh bicara dengan Ibu nak?”

illustrated by Andini PB.

“Stttt, nenek ibu sedang bobo. Hihihi maaf ya nenek. Nenek telpon lagi aja nanti” mode mengatur orang tua dengan mimik meyakinkan dan sangat lucu terlihat. Padahal dia tahu, ibunya sedang mengiris tempe untuk sarapan pagi nya, sebelum dia berangkat ke TK Melati Putih di dekat rumahnya.

    Dengan santai dia melenggang menuju ruang tamu yang besarnya kurang dari dua kali dua setengah meter. Dia bermain gambaran sebelum berangkat ke sekolah diantar oleh ibu. Ibu nya sempat mendengar kalau Bian berbohong kepada neneknya. Dia memanggil Bian. Bian berlari menghadap nya.

    “Sayang, Bian. Ibu selalu mengatakan kalau orang berbohong akan banyak musuh atau tidak?”

    “iya.” Jawabnya singkat; dia memahami maksud ibunya.

    “Tadi Bian mengatakan apa ke nenek?”

    “Ibu, Bian minta maaf ya.” Matanya berkaca-kaca dan mulai menangis

    “iya, ibu memafkan. Ya sudah. Bisa berhenti menangisnya?” ungkap ibunya. Bian pun mengangguk. Ibu mengulang pertanyaannya kembali.

    “Bian sayang, tadi Bian bercerita apa ya ke nenek?”  

    “Aku cerita ibu mau mengajak ke pasar kaget buat beli mobil-mobilan.”

    “Oh begitu, lalu nenek bilang apa?”

    “Nenek bilang mau ikut juga soalnya, nenek pengen makan kue surabi, ibu.”

    “Hm. Berapa belinya nak, kata nenek?”

     “Sepuluh ribu, kata nenek Bian boleh dapat satu” ucapnya bentes

    “Memang Bian tahu kalau uang sepuluh ribu bisa mendapat berapa surabi?” tanya Ibu.

    “Tahu dong, ibu. Harganya kan dua ribu satu surabinya. Jadi kalau sepuluh ribu nenek pasti dapat lima, bu” jelasnya

Ibu nampak terkejut. Dia tidak pernah tahu bagaimana anaknya mampu mengerti pembagian. Dengan antusias dia mendekati Bian setelah selesai memasak tumis tempe kesukaan untuknya.

illustrated by Andini PB.

“Bian, ini dua ribu” ujar ibu menguji Bian

    “iya. Ibu pasti pengen tahu ya, Bian ngerti apa engga sama uang dua ribu.” Ibu terkejut kembali. Anakku sudah besar sepertinya, dia mampu memahami apa yang menjadi pertanyaannya.       

    Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, Ibu Netti sudah selesai menyiapkan bekal untuk Bian ke Taman Kanak-Kanak Melati Putih tempatnya sekolah. Adik Bian, Chika, juga sudah mandi. Bian bersiap pergi ke sekolah diantar Ibu. Bian berjalan sambil bernyanyi sangat riang,

    “Hallo-hallo Bandung, ibu kota periangan, nana lama beta..”

    “Sudah lama beta, tidak berjumpa denganmu sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut… kembali” Ibu meneruskan kata-kata Bian yang terputus di lagu itu. Hari ini ibu guru Susi akan melihat anak-anak TK Melati Putih menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung.

                                           #####

Esok harinya, sepulang dari sekolah Bian pergi bersama ibu ke Pasar Kaget. Di sana banyak sekali penjual berjualan. Ada penjual sandal, baju, makanan, minuman, sayuran dan bumbu. Di dekat lapangan voli, berbagai permainan anak berkumpul. Bian langsung menuju ke sana dan mencoba salah satu.

“Ibu, aku mau yang ini” pintanya sambil menunjuk ke mobil truk “molen” kuning

“Berapa harganya, pak?” tanya Ibu.

“Yang ini, dua belas ribu dari plastik. Kalau yang agak besar ini empat puluh lima ribu, bu”

“Kakak Bian mau yang mana? Yang plastik aja ya, nak.”

“Aku pengen yang warnanya kuning itu bu, itu kan bisa buat adukan untuk jalan ibu” rajuknya.

                      “Uang kakak sudah berapa?” tanyanya kemudian

   “Baru ada segini” sambil memberikan lima jarinya.

    “Lima apa, nak? Mana, ibu boleh melihat kah nak?” Bian memperlihatkan tiga lembar sepuluh ribu rupiah, dua lembar lima ribu rupiah, tiga lembar dua ribu rupiah, empat koin lima ratus rupiah dan sepuluh koin dua ratus rupiah, yang disimpannya di dompet besar.

                     “Tiga puluh deh, mang.” Tawarnya

 “Boleh bu, ambil berapa?” tanya mamang penjual

  “Satu, yang kuning” Ibu memberikan tiga uang sepuluh ribu rupiah berwarna ungu dengan gambar pahlawan Frans Kaisiepo yang sudah mulai lusuh. Bian langsung mengambil truknya dan membelikan nenek kue serabi. Dia mengantarkan kue surabi ke neneknya, baru kemudian pulang dengan bahagia.  

Sesampainya di rumah, Bian langsung memainkan mobil-mobilan di halaman rumah saat itu dia mendengar ada penjual tahu bulat. Dia meminta ke ibunya untuk dibelikan tahu bulat tersebut.

“Tahu bulat, digoreng dadakan. Lima ratusan” penjual tahu bulat terus menerus menjajakan dagangannya. Bian tiba-tiba menghentikan laju perlahan mobil penjual tahu bulat itu.

“Mang, berhenti!” teriaknya

“Mau beli satu boleh ga?” ungkap Bian.

 “Beli lima saja, nanti ditambahkan satu”  ujar penjual tahu merespon nya.

“Saya punya uangnya cuma lima ratus rupiah, mang. Kata ibu tidak boleh banyak jajan, uang harus ditabung,”

“Ya sudah, boleh.  Mana uangnya?” tanya penjual tahu ramah dan tersenyum karena setelah itu, teman-teman Bian berdatangan dan  membeli tahu bulat juga.

“Sebentar, ya mang. Saya minta dulu ke Ibu. Mamang jangan kemana-mana.”  ujar Bian sambil berlari menemui ibunya.

“Ibu, aku minta uang dua ribu rupiah.”

“Eh buat apa? Ko banyak sekali?” ibu tidak membiasakan Bian memegang uang lebih dari limaratus rupiah.

“Aku mau beli tahu bulat, mamangnya sudah menunggu, ibu. Nanti dia pergi”

“Loh ko, buru-buru? Sebentar atuh, nak” Ibu mengambil dompet dan memberikan uang kertas dua ribu rupiah dengan gambar pahlawan Muhamad Hoesni Thamrin.

“ibuuuu. Cepetan! teman-teman aku juga beli, nanti aku engga kebagian tahu bulatnya”

“Iya, anakku, ini uangnya” Seketika itu juga, dia melesat berlari ke penjual tahu bulat dan memberikan uang tersebut.

“Mamang, ini uangnya” Bian memberikan uangnya dengan tangan kanan. Lalu melanjutkan bicara setelah mendapat tahu bulatnya.

“Mang, jangan lupa ya. Kembaliannya seribu lima ratus rupiah” tukasnya.

“Siip, ini kembaliannya s-e-r-i-b-u   l-i-m-a-r-a-t-u-s  ya. ” ujar penjual tahu bulat.

“Terimakasih ya, mamang.” ujarya sambil mulutnya terus mengunyah tahu bulat yang masih hangat sedikit demi sedikit.

 “Enak ya, Bi tahu nya” ujar salah satu temannya yang sempat bermain kartu bergambar dengannya di ruang tamu.

 “Kamu tadi beli berapa, Fauzan?” tanya Bian pada Fauzan.

 “Aku beli tiga tahu da. Kamu beli berapa?”

 “Aku, mah cukup satu belinya. Sisa uangnya kata ibu dan bapakku harus ditabung. Kamu suka nabung ga?

“Aku mah, yang penting kenyang. Kalau ga kenyang nanti aku sakit gimana? Kan rumah sakit mahal kata mama aku” jelas Fauzan sembari tersenyum.

“Kalau jajan kata bapak tidak boleh banyak, tapi makan di rumah harus banyak.”

“Kamu mah pelit, masa jajan cuma sedikit”

“Aku mah ga pelit, aku orangnya baik tahu. Firman, Sinta, Udin, aku orangnya baik kan ya?” tiga temannya hanya menatap dan tersenyum. Mereka masing-masing membeli tahu sesuai kebutuhan mereka dan memakan dengan lahap.

“Iya, semua teman itu baik, da” tambah Firman menguatkan pendapat Bian. Bian pun tersenyum dan mengangkat jempol.

“Aku sudah beli mobil-mobilan tadi pagi. Kalau beli tahunya banyak, berarti aku boros. Aku mau beli yang lain untuk sekolahku, nah sekarang sisa uang ini mau aku tabung. Gitu loh, Fauzan temanku.” Jelasnya bentes.

illustrated by Andini PB.

“Oh gitu. Okeh deh, Bian temanku. Tos dulu dong kita” mereka pun akhirnya bertos-tosan tanda bahagia berteman.  Firman, Sinta dan Udin juga ikut-ikutan melakukan tos. Mereka kembali bermain bersama.

 “Aku juga nabung. Kata guru aku, menabung itu bagus loh.” Sinta memberikan pendapatnya dan melanjutkan bertanya.

“Kalau kamu menabung ga Fir?”

“Aku menabung dong, diperut aku. hahaha”

“Waah, kamu menabungnya diperut ya? Nanti perut kamu jadi gede dong seperti gunung” ujar Udin kemudian. Anak lainnya tertawa riang sekali.

“Eh, kita main bola yuk?” ajak Udin pada Firman

“Hayu. Kamu ikut ga Fauzan, Bian? Kalau kamu ga usah ya Sinta, kamu kan anak perempuan” timbal Firman

                   “Aku mah pasti ikut kalau sepak bola” balas Fauzan.

“Iya, aku ikut” ucap Bian menjawab pertanyaan Firman.  

“Ih, Firman. Aku juga bisa main bola. Kenapa ga boleh ikut?”

 “Kamu mah bantu membelikan bola plastiknya, saja. Kalau kamu ikut main jumlahnya tidak sama Sin” jelas Bian.

 “ya udah, mana uangnya kalau aku yang diminta membelikan. Harganya berapa?”

“Ayo, siapa yang mau udunan? Harga nya tujuh ribu”

“Aku pulang dulu ya” Bian tiba-tiba berteriak dan berlari pulang ke rumah yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari halaman bermain mereka.

“Ko, Bian pulang. Kan kita mau udunan” teriak Firman yang dibalas senyuman Bian sambil berlari kecil

        “Assalamu’alaikum ibu, bola plastikku dimana?”

“Eh kenapa ko teriak-teriak lagi. Bola kamu di kamar Bian. Jangan ribut ya. Adik kamu masih tertidur” Bian berlari ke kamarnya dan menemukan bola plastik di sana. Dia dan teman-teman bisa bermain tanpa harus mengeluarkan uang. Segera dia keluar rumah yang sebelumnya meminta izin ke ibunya kalau dia akan bermain bola di halaman SD Harapan Sejahtera Cibeusi, yang jaraknya limapuluh meter dari rumahnya.

“Ibu, aku main lagi ya bu. Assalamu’alaikum!” sambil cium tangan.

“Iya, jam 2 pulang ya nak, Bobo dulu. Malam nanti ibu ke mall beli susu adik dan kamu” Bian mengangguk setuju dan berlari kembali ke tempat dia meninggalkan teman-temannya. Terlihat mereka sedang duduk dan menendang kerikil di pekarangan SD. Mereka diperbolehkan main oleh pak Sadili penjaga sekolah dasar itu. Bian menendng bola plastik ke arah mereka dan wajah mereka pun terlihat bersinar menyambut Bian.

“Aku kira kamu tidak mau udunan. Ternyata kamu ambil bola, Bian?” ujar Firman.

“Ayo kita main teman, Sinta jadi wasit ya” ujar Fauzan kemudian. Mereka bahagia bermain bola.

Tepat jam 13.00 mereka sudah kelelahan bermain, mereka kemudian tidur-tiduran di masjid dekat SD.

“Eh kita belum sholat dzuhur loh” Udin menyampaikan sambil berjalan menuju ke tempat wudhu. Dia berwudhu dengan baik. Kaki-kakinya yang kotor berdebu dicucinya dengan bersih, wajah dan kepalanya basah karena berwudhu. Teman yang lainnya mengikuti termasuk Bian, si cabe rawit. Dia mengambil sarung dan mengikatkan sebisanya dibantu oleh Udin yang usianya memang dua tahun lebih tua dari Bian setelah itu mereka melanjutkan permainan.

“Aku jadi penjaga gawang ya”

“Ya, udah” ucap Udin yang bersiap menendang bola ke arah gawang, Bian langsung mengambil alih serangan dan Fauzan menjegal lari bola sayangnya, kaki Bian yang terkena. Bian terjatuh.

“Aduh, Ibu huuuuu. Aku jatuh huuuuu” lututnya terluka dan Bian menangis mengerang. Wajahnya sedikit memerah menahan sakit. Ibu datang melihat Bian dan teman-temanya bermain sambil menggendong dan menyuapi Chika.

 “Kalau jatuh, Bian langsung bangun nak. Semangat, jangan menangis ya, sholeh!” Ibu memberikan semangat pada Bian yang memang mudah menangis. Bian akhirnya menghentikan tangisnya, dan bersembunyi di belakang ibunya agar tak terlihat air mata dan suara tangis dari teman-temannya.

“Kamu, sih. Kenapa atuh kakinya dijegal?!” bisik Udin pada Fauzan sambil juggling bola plastik.

“Aku enggak jegal, igh kamu. Aku the, mau ambil bolanya pakai kaki aku ini” Fauzan membela diri.  

 

 “Iya, kamu kekencengan ambil bolanya” bisik Sinta yang sejak tadi hanya ikut-ikutan berlari kesana kemari ketika yang lain bermain bola karena dia berperan sebagai wasit. Fauzan akhirnya mencoba untuk mengajak Bian main bola kembali.

“Bian, maafin aku ya” ujar Fauzan sambil mendekati Bian. Bian mengangguk dan menyeka air matanya. Mereka kembali ceria dan bermain bola lagi. Ibu hanya tersenyum melihat mereka. Mereka terlihat asyik bermain sampai  pukul 14.00, Ibu mengingatkan Bian agar segera pulang dan tidur siang.

                                                        #######

 

Ayah sudah kembali setelah seharian berada di jalan  mengantarkan penumpang ke tujuannya.

“Assalamu’alaikum, bu.”

“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah ayah sudah sampai” ucap Ibu pada suaminya Pak Hairi sambil mencium tangan suaminya. Ibu sudah menyiapkan makan untuk ayah.

 “Kemana anak-anak, bu?” tanya Pak Hairi.

“Sedang tidur siang, pak.”

“Oh Alhamdulillah” tanggap nya kemudian.

“Pak, nanti antar ibu dan anak-anak membeli susu di Mall depan ya? Ibu sudah berjanji untuk mengajak Bian membeli susu sekalian mengajarkan dia bagaimana menggunakan QRIS dan ATM” jelas ibu sambil membawakan ayah handuk karena beliau terlihat akan bersiap untuk menyegarkan tubuhnya dan shalat ashar.

“Masih kecil, bu. Mengapa harus diajarkan?”

“Anak kecil itu tubuhnya, di zaman gen z mah justru anak-anak lebih cepat menyerap informasi sejak dini yah. Boleh ya, yah?” rajuknya.

“Iya, bu. Boleh. Tapi ayah mandi, shalat ashar dan cuci mobil dahulu ya bu. Kita perginya setelah maghrib saja, bagaimana bu?”

“Alhamdulillah, boleh ayah.” ucapnya dan pak Hairi pun meninggalkan ruang makan mnuju kamar mandi di bagian belakang rumah mereka, melihat istrinya tersenyum bahagia, ayah nampak senang.

Jam telah menunjukkan pukul 16.45 ketika ibu membangunkan putra sulungnya.

“Bian, anakku sayang. Bangun nak. Bian mau ikut ibu dan ayah ke mall?”

“Huaaah, bu. Aku masih ngantuk” ujarnya dengan mata masih terpejam

“Adik kamu sudah mandi, kita akan bersiap pergi, nak. Bian berani ya ditinggal sendiri di rumah?”

“Ibu!” jawab Bian kemudian

“Apa, sayang” tukas ibu lembut

“Aku gak mau ditinggal sendirian, bu. Aku ingin ikut juga” jelasnya sambil merajuk.

“Oh begitu, boleh. Kakak Bian sudah mandi belum?” tanya ibu ceria karena misinya mengajak tanpa memaksa, alhamdulillah, berhasil.

“Belum, ibu. Aku mau mandi dulu. Ibu, ayah dan adik tungguin aku ya.” ucapnya sambil pergi mengambil handuk.

“Mandi yang bersih, sayang. Jangan terburu-buru ya, nak. Ayah, ibu dan adik menunggu, kok” saran ibu pada Bian sambil memberikan makan pada Chika, yang sedang bermain di karpet. Ayah terihat baru selesai makan sore itu.

“Brrrr…” Bian keluar dari kamar mandi berbalut handuk. Dia memang sudah bisa mandi sendiri. Ibu pun sudah mempersiapkan baju untuk Bian. T-shirt spiderman merah dan celana pendeknya langsung digunakan dengan cepat. Dia mengambil minyak kayu putih dan membalurkan di sekitar perutnya. Lalu dia ambil sisir dan berkaca untuk merapikan rambutnya.

“Ganteng sekali, anak ibu” puji ibu pada anaknya. Bian tersenyum melihat ibunya.

“Terimakasih, ibuku yang cantik”

”haha..” tawa ibu melihat tingkah putra sulungnya.

“Ibu, Ayah mana? Aku sudah siap. Kapan kita perginya?”

“Sebentar, sayang. Kita tunggu adzan maghrib dahulu. Kita pergi setelah maghrib ya”

“Oh begitu, ibu. Oke deh. Bian main mobil-mobilan dulu ya bu.”

“Boleh” ayah terlihat sedang memanaskan mesin mobil angkotnya.

“kita mau membangun rumah dan jalan harus pakai mobil molen. Mobil molen siap meluncur zengggg,  ngeeeengg. Gedubag sreggg sreggg”

Bian menjalankan mobilnya dan berhenti di satu tempat untuk memutar molennya sambil mengikuti suara semen, batu dan pasir yang diaduk, seperti yang didengarnya ketika kepala desa memperbaiki jalan di depan rumah mereka yang sederhana. Sejak itu Bian ingin sekali naik mobil molen.

“Sambil makan ya, sayang” tiba-tiba ibu sudah mengambil sesendok nasi dan sayur sop ayam kesukaan Bian ke mulutnya.

“Nyam.. nyammm..”  entah apa yang ada dipikiran Bian, dia bertanya hal yang memang baru akan diberitahu pada saat nanti dia sampai di Mall.

“Ibu, Qris itu apa?”  tanyanya mengagetkan ibu.

“Owalah, anak ibu sudah besar. Denger dari mana QRIS?” ibu belum menjawab karena ingin melihat seberapa besar keinginan Bian mengetahui tentang hal ini.

“ngeeeengggg… cupak.. cupak…. Airnya dimasukin ke tankinya. Pasirnya juga dan semen; ibu kenapa gak jawab pertanyaan Bian, sih?”

“QRIS itu singkatan Quick Respond Code Indonesian Standard, sayang. Itu cara pembayaran yang tidak memakai uang, anakku sayang.”

illustrated by Andini PB.

“Oh gitu ibu. Emang bisa bu kalau Bian beli pasir pakai Qris?”

“Bisa, sayang. Bila tokonya menyediakan barcode nya?”

“Barcode itu apa, ibu?”

“Itu loh. Kakak kan suka lihat, kalau di mall ada gambar garis-garis terus, kasirnya suka kasih lampu scanner yang ada warna merah. Nah, itu adalah barcode, nak. Itu  untuk membaca data harga, stok, dan informasi tentang produk, nak”

“Ngeeenggg… jugjag… gubreeek, gubraak” setelah mendengar penjelasan Ibunya, dia melanjutkan bermain mobil-mobilan.

“Bian, sini nak!” panggil ayah dari luar rumah.

“Iya ayah, sebentar.”  Bian datang menghampiri ayahnya.

“Kamu, tolong ambilkan sabun saset di dekat tabung gas ya! Ayah mau cuci mobil dahulu” perintah ayahnya.

“Siap ayah.” Dia berlari menuju dapur dan menemukan sabun cuci untuk mobil di sana. Langsung dia berlari ke arah ayahnya setelah itu.

“Pinter, anak ayah”

 “Aku boleh bantu, ga ayah?”

“Kamu kan sudah mandi, jadi main saja dulu di dalam ya. Tunggu adzan maghrib, nanti kamu shalat bareng ayah dan ibu. Baru kita pergi ya sayang”

“Jadi, aku ga boleh bantu?”

  “Tadi Bian sudah bantu ayah ambilkan sabun kan. Sekarang giliran ayah yang bekerja. Oke?!”

“Ya sudah lah” wajahnya nampak sedih dan lesu. Dia akhirnya masuk dan bermain mobil-mobilan lagi sambil meneruskan makan sorenya bersama ibu dan adiknya.

Adzan telah berkumandang di masjid dekat rumah Bian. Bian yang baru saja menghabiskan suapan terakhir, berlari ke kamar mandi dan segera membuka keran.

“Bian.. astagfirullah!, minum dulu nak” ungkap ibunya kaget melihat Bian berlari melesat setelah mendengar adzan. Bian tidak menjawab karena dia sedang mengambil wudhu agar dia bisa segera pergi ke Mall bersama ibu, ayah dan adik. Setelah mengambil wudhu dengan tertib, Bian berlari ke arah ayah yang juga sudah selesai membersihkan mobilnya.

“Ayah, wudhu dulu. Kita kan akan sholat berjama’ah” ucapya dan kemudian menengok ketika ibunya memerintahkan dia untuk menggunakan sarung, kopiah dan menjaga adiknya.

“Bian, kamu sudah ambil wudhu. Pakai sarungmu dan jaga adik kamu sebentar ya. Ibu ambil wudhu dulu”

“Iya, Ibu” lalu dia mengambil sarung di lemari bajunya dan kopiah di bufet tivi di sebelah kamarnya. Kemudian dia menggunakannya dengan cepat dan langsung mengajak adiknya bermain.

“Ibu, sajadah aku belum ada” ujarnya setelah ibunya kembali ke ruang tamu dan menggeser meja ke arah pinggir agar bisa sholat bersama. Ayah juga sudah rapi dengan pakaian yang bersih dengan kopiah dan menempatkan diri di bagian Imam. Bian berada di belakang ayah dan ibu berada di belakang Bian sementara adik ditempatkan ibu di samping ibu berdiri agar tidak mengganggu, ibu memberikan mainan untuk adik. Bian mengikuti semua gerak dan mulutnya komat kamit lucu.

Ketika berdo’a, Bian menengadahkan kedua tangannya di depan dada sambil mengucapkan kata ‘amin’ setelah ayah berdo’a dengan suara yang keras. Selesai berdo’a Bian langsung mengambil dan mencium tangan ayahnya. Ayah mencium kepala Bian dengan lembut dan mengusap punggungnya. Kemudian, Bian pun mencium tangan ibunya yang langsung memeluk dan mencium pipi Bian. Bian juga tidak melupakan adiknya, dia meminta adiknya untuk bersalaman dengannya dan menyodorkan tangan ke arah adiknya agar adiknya mencium tangan dia.

“Ibu, adik Chika ga bisa salim. Tangan akunya dijilat adik”

“Iya, adik kan belum mengerti kak” jelas ibunya sambil tersenyum.

“Ayo bereskan sajadahnya dan kita bersiap”

Bian segera sigap melipat sajadah ayah dan sajadah dirinya. Lalu disimpan di kontainer khusus sajadah, Al Qur’an dan Mukena di dekat ruang makan. Ayah terlihat berjalan ke luar dan menstarter mobilnya. Bian mengikuti ayahnya dan duduk di samping kanan ayahnya. Sementara ibu duduk bersama Chika di samping Bian.

Mereka melewati hutan desa, pos giro, puskesmas, dan SPBU untuk sampai di Mall. Di SPBU ayah mengambil barcode untuk membeli bensin. Bian memperhatikan petugas SPBU yang menscan barcode dengan seksama, lalu bertanya ke ayah.

 “Ayah kenapa ayah harus kasih gambar ke bapak itu? Memang kalau beli bensin tinggal trettt.. trettt… gitu? Ayah engga bayar? Kasihan bapak itu kalau ayah engga bayar”

“Ayah, bayar ko. Ini uangnya” Ayah memperlihatkan susunan uang 2000 rupiah yang rapi, 5000 rupiah dan 10000 rupiah dengan total sebanyak 50.000 rupiah.

“Jadi itu yang trettett.. untuk apa, yah?” tanyanya lagi

“Barcode itu gunanya untuk mengizinkan atau tidak transaksi, nak. Kalau sudah ada izinnya, lalu petugas memberikan dagangannya dan ayah membayarkan”

“Oh. Jadi aku boleh pake barcode itu untuk beli siomay yah?”

“Tukang siomay menjual siomaynya hanya 2000 rupiahan, jadi bisa langsung; tidak perlu pakai barcode. Kalau agen siomay yang buat siomay sampai berkilo-kilo buatnya, mungkin bisa kak”

 “Tapi itu ko, ada orang pakai kartu-kartu ditempelin; dia engga keluarin uang, bu?” setelah dia pindah ke belakang angkot tempat para penumpang duduk hanya untuk melihat transaksi jual-beli bensin di SPBU berlangsung. Kemudian kembali duduk di samping ayahnya yang sudah menjalankan angkotnya.

“Mana, kak?” tanya ibu.

“Itu, ibu. Orang yang pakai mobil di belakang. Dia engga kasih uang tapi tempel-tempel kartu aja”

“Hahaha” ayah dan Ibu tertawa melihat mimik Bian yang lucu karena penasaran.

“Ya, itu namanya kartu ATM. Bapak itu punya tabungan jadi uangnya tinggal mengeluarkan lewat kartu dengan chip, nak. Makanya beliau tidak perlu bawa banyak uang cash, biar aman”

“Ayah dan ibu punya tabungan kayak bapak itu engga?”

“Ayah punya tabungan, tapi hanya untuk kamu sekolah nak”

“Ibu engga punya?”

“Punya dong, untuk belanja, jajan kamu dan adik, serta bayar tagihan”

 “Kamu punya tabungan engga?”

“Aku punya tapi di celengan ayam jago, bu. Aku mau punya tabugan kayak bapak itu, bu. Boleh engga?”

“Boleh dong, tapi nanti kalau kamu sudah masuk SD ya. Dan tidak boleh digunakan yang tidak penting. Ibu yang pegang dan itu transaksi CeMuMuah namanya nak”

“Apa Cemumuah, bu!”

“transaksi Cepat Mudah Murah Aman dan Handal, maka ibu mengizinkan sayang”

“Ayah aku boleh dong, punya ATM kalau sudah SD, Asyik. Dik Chika nanti ya, kamu masih kecil” sambil mencium adiknya dan Ayahnya.

“Igh, ko kamu bau asem sih. Kamu belum mandi ya?” canda ayah setelah dicium Bian di pipinya.

“Ayah, aku udah mandi. Bersih ko. Engga bau asem!” teriaknya

“Hahahaha hehe, iya ayah bercanda”

 “Nah sudah sampai Mall, sebentar ya. Ayah parkir dulu” jelas ayah kemudian sambil memarkir angkotnya di bagian kiri area parkir Mall. Ayah menggendong Chika, Ibu memegang tas kecil berisi dompet dan kartu ATM sambil menggandeng Bian masuk ke Mall. Mereka melihat-lihat sebentar dan langsung menuju toserba yang ada di Mall. Bian membantu ibu memegang troli bersama ayah, yang mendudukan Chika di bagian belakang troli.

Ibu mencari susu formula untuk Chika dan Bian, kemudian mencari minyak goreng, bumbu-bumbu, mie instan, snack-snack manis dan asin, buah, sabun mandi keluarga, shampoo, dan minyak kayu putih. Total belanja kurang dari 300.000 rupiah.

Bian berjalan dengan bahagia dan memperhatikan detail apa yang ada di toserba itu. Perhatiannya kemudian tertuju pada los mainan anak. Dia lihat bolak-balik beberapa mainan mobil-mobilan dengan remote. Dia berpindah ke mainan telpon dan boneka.

“Ayah, aku boleh engga beli itu?” sambil menunjuk mainan mobil-mobilan menggunakan remote control.

“Mana, Yang ini?” tanya ayahnya.

“Iya” sambil mengangguk. Ayah melihat harga mainan itu seharga 250.000 rupiah, dia memberikan pengertian pada putranya untuk menabung dulu jika ingin membeli itu. Dengan perasaan sedih Bian berjalan dan tidak ingin melihat los itu lagi. Ibu pun tahu apa yang dirasakan Bian. Beliau mengajak Bian untuk membayar dengan barcode punya nya dan membelikan Bian es krim kacang yang disukainya.

“Sini, lihat yuk” ajak ibu

“Bian bisa lihat cara membayar dengan QRIS, tadi siang kan Bian tanya ke ibu? Mau?” Bian kembali ceria ketika diminta mencoba. Ibu sudah membuka, cek saldo punya ibu, memindai barcode di kasir toserba, kemudian mengisi nominal pembayaran.

 “Sini bu, aku yang kasih ke kasirnya” ibu pun memberikan handphone ibu ke Bian agar dia yang memberikan transaksi pembayaran yang telah ibu lakukan.  

“Terimakasih” ucap kasir pada Ibu dan Bian. Bian meloncat-loncat tanda senang karena dia bisa menggunakan QRIS. Ibu nya tersenyum begitupun orang-orang di sekitar melihat tingkah Bian yang lucu.

“Ibu kasir, Cemumuah ya” katanya kemudian. Kasir toserba itu hanya tersenyum.

 “Apa Cemumuah dek?” tanya pak Satpam yang membantu kasir memasukan barang belanjaan ibu.

“Cemumuah ya itu cepat-mudah-murah-aman-handal, pak satpam” jelasnya pelan-pelan ke satpam sambil membawa kresek berisi snack manis dan asin serta susu miliknya. Kreseknya nampak lebih besar dari badannya, tetapi dia coba untuk tetap memegangnya.

“Oh, transaksinya pakai ATM dan QRIS jadi Cemumuah ya?” lanjut satpam menggoda Bian.

 “Iya, pokoknya Cemumuah” ucapnya sambil mengayun-ayunkan plastiknya. Tidak ada lagi wajah sedih di wajahnya.

“Terimakasih, Sudah berbelanja ke sini!” ucap Satpam pada semua pembeli ke toserba itu, termasuk pada Bian dan keluarga.

Mereka pulang dengan hati bahagia. Ayah telah sampai di rumah kembali dan Bian tertidur di kursi penumpang dekat ayah bersama ibu, begitupun Chika, tidur digendongan ibu. Ayah membawakan barang-barang belanjaan dan Ibu menggendong Chika untuk menidurkan di kamar, baru kemudian mengambil Bian untuk ditidurkan di ranjang milik Bian di kamar yang sama dengan Chika.

Hari itu Bian memiliki banyak pengalaman baru, bagaimana dengan kalian? Belanja sesuai kebutuhan dan jauhi pemborosan agar rupiah bisa terus mengalir dengan baik di masyarakat.  


😍😍

PROFIL PENULIS

                    Diah Trisnamayanti lahir di Jakarta tahun 1968. Memiliki seorang putri dan tinggal di Sumedang Jatinangor, lulus  dari Fakultas Sastra Inggris, Universitas Nasional Jakarta, 1994.  Mengajar Bahasa Inggris sejak tahun 1993 sampai sekarang. Saya telah berkarir sebagai seorang guru honorer swasta kurang lebih 30 tahun lamanya. Saat ini masih mengajar di SMK MedikaCom Bandung.

Tahun 2020, penulis bergabung di bincang edukasi bersama Prof R. Indrajit, AISEI dan Kelas Kreatif.. Sejak saat itu penulis terpacu menulis tantangan di blog setiap hari maupun menulis buku. Inspirasi dan bimbingan menulis dari senior writers, Prof. R. Indrajit, Sri Sugiastuti,  Wijaya Kusuma,  Rita Wati, Ibu Genderia Hutasoit, teman-teman penulis blogger di  AISEI2  dan nara sumber pengisi webinar Nasional di AISEI. Menulis banyak artikel di Kompasiana sebagai Junior yang mulai debut, belakangan jarang mengisi karena banyak peluang lomba menulis maupun membuat design batik yang dilakukan penulis.

Buku/Audio yang pernah diterbitkan: 

1.      Klub Ngopi-Ngopi

2.      Antologi Model Belajar AISEI: Morse Code Play dalam 75 Indonesia Maju,

3.      Antologi Travelling                : “Sejuta Pesona Nusantara”,

4.      Antologi AISEI                       :   Cernak Jujur Itu Keren “Boleh bertanya?”

5.      Antologi FMA                        :    Cerpen “Cinta Pertama: Sepenggal Kisah Belum Usai" dan “Cerita Misteri”

6.      Artikel                                     :    Anakku Indahnya Duniamu,

7.      Artikel                                      :   Cinta Rupiah Legalitas Pengamanan Identitas Negara

8.      Monolog Drama                       : Are You Going To Take Profit? https://www.youtube.com/watch?v=mZSM7t3o3mY

     Kompasiana Blog:  Sandal Jepit  Biru (https://www.kompasiana.com/diahtrisnamayanti6384/66206b2fde948f15c7117ea2/sandal-jepit-biru?page=all) / https://www.kompasiana.com/diahtrisnamayanti6384

     Kumpulan Puisi-Puisi: https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7

     Kumpulan cerpen       : https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7

     Kumpulan Artikel       : https://ibnucienna.blogspot.com/search?updated-max=2021-12-14T00:09:00-08:00&max-results=7


 





 








 

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

your opinion