Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.

Kamis, 08 Oktober 2020

#Day3AISEIWritingChallengeKaryaTuntutlahIlmuSampaiKeNegeriCina .Bismillah

 

TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CINA


Ketika suatu hari Mrs. Yoko Takagi, temanku di  IAERN  mengunggah sebuah foto di facebook tentang aktivitasnya mengajar kelas sejarah saat itu yang ada di benakku “Betapa hebatnya beliau”, Seusia pensiun ibuku, beliau masih aktif memberikan ilmu kepada anak-anak yang sangat jauh usianya dari beliau di sebuah sekolah di negara sakura.  Akupun teringat sebuah hadist yang mengatakan “Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina”. Pengajaran karakter dan budaya negara sakura, dimulai dari kecil, mereka terkenal disiplin, bukan sesuatu yang tiba-tiba. Latar belakang kehidupan keluarga di negara Jepang, mungkin tidak jauh berbeda dengan kita. Tetapi mereka lebih menghargai sejarah negaranya dan budaya mendengarkan pemimpin (Kaisar) serta orang yang lebih tua membuat mereka menjadi negara maju di asia, saya yakin pasti ada juga kekurangan mereka. Ambilah saja yang positifnya dari mereka.

                                            

            Beberapa waktu lalu dan masih sampai sekarang, pendidik diharapkan memasukkan kata dalam rancangan pembelajaran alias RPP dengan kata-kata berkarakter. Akan tetapi, jika diamati dalam prosesnya penekanan tersebut tidak muncul. Antara sekolah, orang tua dan lingkungan belum terlihat kekompakan dalam memproses pendidikan bagi siswa.

 Sekolah seharusnya memberikan program parenting yang terus-menerus bisa bersinergi baik pada orang tua dan lingkungan sekitar. Waduh jadi serius begini ya?! Ya sudah teruskan saja. Maaf ya, yang kurang suka serius.  Kali ini, saya ingin sedikit mengajak untuk berpikir. Tidak susah ko.  😀😀

Aku memang mudah terbawa suasana ketika anak-anak yang ceria bersekolah hanya melampiaskan hasrat mereka bermain. Sehingga sekolah hanya sebagai sarana tempat bermain yang tidak memproses mereka menjadi anak yang memang berbakat dalam bidang tertentu kalau bahasa kerennya Learning by doing.

      Boro-boro memikirkan bakat; berbicara dengan bahasa sopan saja, sepertinya sulit keluar dari mulut mereka. Karena lingkungan sekitar, memperkenalkan mereka budaya “kancing coplok” berulang-ulang dan menganggap biasa, bahkan tertawa setelah anak mengatakan hal tersebut. Sementara orang tua pengendali terakhir, terkadang marah berlebihan ketika anak menyebutkannya di depan mereka atau di depan komunitas.

         Dengan semangat yang tidak saling menyalahkan, paling tidak kita membangun konsep pendidikan karakter yang bersinergi. Sekolah harus siap membangun parenting link dan society link sehingga bisa membuat orang tua membaca materi yang diberikan bukan hanya mengkritisi kebijakan sekolah. Semangat membangun karakter bangsa, teman-teman! Thank you for giving me inspiration through My friend, Mrs. Yoko Takagi From IEARN Japan. 💖💪 I wanna be a tough teacher like you.


            

 

8 komentar:

  1. Pembentukan karakter merupakan sinergi antar pendidik dan orang tua. karakter anak tidak akan jauh berbeda dengan karakter pendidiknya di rumah (orang tua) maupun di sekolah (guru).

    Bagaimana ya membangun parenting link atau social link antara orang tua dan pendidik di sekolah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar pak. Terimkasih pak, senangnya dikunjungi oleh Omjay.

      Hapus
    2. Mungkin dengan mengajak mereka bergabung dalam wadah tertentu yang di fasilitasi RT/RW/Lurah?camat sekitar sekolah, dengan sebuah kegiatan Fair, memberikan kontribusi kepada pedagang cilok misalnya, membuat cilok yang sehat (kebersihannya, racikannya, packagingnya) dan murah dan bisa dimakan oleh anak kecil sampai dewasa.

      Orang tua juga bisa berpartisipasi dalam fair bisa menjadi pembicara/nara sumber.

      maaf pak. ini imajinasi saja. faktanya saya sendiri baru mencoba pada 1 pedagang dan itu susah... hahaha. tapi kan usaha ya pak.

      Hapus
  2. Banyak teman, banyak belajar, banyak ilmu ya bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu. seangnya dikunjungi oleh Ibu Sri. alhamdulillah 1 musuh terlalu banyak, 100 teman masih kurang untuk menimba ilmu ya bu.

      Hapus
  3. keren sekali ide tulisannya, semoga terus menginspirasi ya

    BalasHapus

your opinion