Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.
Tampilkan postingan dengan label POETRY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POETRY. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2026

COBA



Oleh Diah Trisnamayanti

 

Sudah ku simpan semua asa yang tak terwujud di sudut hati

Ku yakin tak akan terlihat dengan mata telanjang.

Tapi nyatanya, degup jantung mendera samakin kencang

Tak tertahan diri ini ingin bersua, tapi jarak memisahkan kita.

 

 Bunga harapan tumbuh bila sinar cerah muncul di matamu

 Tapi kau tergolek tak berdaya dengan berbagai selang di tubuhmu.

 Tak kuasa kutahan rasa untuk memelukmu, mengatakan dan mencium pipimu

 Aku tahu kau sayang padaku lebih dari dirimu sendiri.

 Lantunan do’a kupanjatkan tiada henti agar kau bangun.

 

Aku hanya dapat mengingat ketika kau

Membelaiku, memanjakanku, menguatkanku dan menasehatiku

Dengan tulus tanpa banyak kata.

Mataku berkaca saat kau memintaku membersihkan mu, membelikanmu buah,

Walaupun kau tahu buah yang kau minta sulit didapat, kau hanya mengujiku untuk terakhir kali,

Apakah aku bisa rasakan lagi sentuhanmu? Tangisku deras, suaraku lekang tercekat.

 

Kau merindu suaraku, tapi tak mampu kuangkat dering telponku,

Kau meratap di tiap malam tentangku, kini aku meratap menyesalinya

Coba kuderingkan rasa hangat tubuh, tapi kau sudah berada di pusara bersama wangi bunga.

 

Medio Jatinangor, 16 November 2025


GINCU MERAH

 


Oleh Diah Trisnamayanti

 

Jalanku memang panjang,

Berkelok, lurus terkadang ku lihat orang terkapar lemas,

Kadang terlihat mereka berkelahi, terkadang mereka acuh tak acuh,

Berat beban yang ku gendong setiap hari,

Adalah caraku membahagiakan hidup,

Mungkin ini jalan yang harus ku lewati.

 

Kadang aku menangis di tengah malam

Merintih karena lelah, ya aku hanya manusia biasa.

Ketika waktu tidur tiba, aku melihat anakku tergolek

Tubuhnya tak diselimuti lemak seperti kebanyakan remaja

Pakaiannya lusuh, karena setiap hari dipakai dan jarang diganti,

Semangatku membara

Karena dia yang Allah percayakan padaku untuk kudidik

Kusayang, kelindungi dan kucintai saat ini,

Rasa maluku mendadak hilang

Ketika dia tak makan sebutirpun nasi di hari itu,

Lebih baik aku yang tak makan.

 

Aku ingin ia punya hak dan harkat yang tinggi di mata teman-temannya

Dia selalu  bilang

“Aku bahagia bila Bunda tak sakit badan lagi”

Menetes air mataku mendengarnya;

 

Ketika ada rezeki menghampiriku,

Aku tak pernah lupa hutangku, hidupku

Tapi anakku menarik perhatianku, aku ingin anakku bahagia sedikit saja

Gincu merah dibelinya setelah ujian selesai dia kerjakan.

Wajahnya semburat memerah dan tampak bahagia,

Aku senang melihatnya,

Tapi Allah berkata lain, gincu itu tak boleh bersandar di bibirnya yang halus

Gincu seharga 1liter beras untuk keluarga ku makan 3 hari itu tertinggal di angkot

Yang membawa kami pulang.

Aku melihat wajahnya kecewa, tapi iya mampu menutupinya.

Berkali-kali dia mengusap tanganku, memohon maaf atas ketelodarannya.

 

Salahkah aku?

Tidak, tapi aku tetap harus belajar dari semua teman-temanku.

Kadang ada iri dalam jiwa, tapi itu tak lagi penting.

Aku memang harus luruskan langkah dan ikhlaskan hati karena

Allah saja.

 

 

Medio, jatinangor 19 Februari 2026. 


KU KIRA


 

by Diah Trisnamayanti

Ku kira perjalanan ini butuh waktu sebentar, sudah hampir tiga dekade yang muncul hanya kepalsuan.

Ku kira angan-angan ku sebagai rakyat jelata punya harta berlimpah dan kerja tak susah kan terwujud nyata, sayangnya aku baru saja terbangun dari tidur lelap di siang hari dan tak ada apapun di bakul nasi ku.

Ku kira bansos itu punyaku, hei aku tak tercatat sebagai penerima bansos meskipun seringnya aku, istriku dan anakku menahan lapar berhari-hari.

Ku kira tulisanku kan dapat membuatku kenyang, ternyata hanya kenangan rasa kenyang itu muncul dalam hidupku.

Ku kira dapur istriku bisa terus ngebul, benar memang ada kebulan asap penghisap jiwa.

Ku kira nyawaku sudah tak di bumi, benar nyawaku melayang mencari mangsa yang bisa mengkreditkan jiwa dengan pundi-pundi rupiah hingga peluh hilang.

Ku kira mataku salah melihat, dia melilitkan tubuhnya pada rakyat miskin tanpa hati.

Ku kira aku tak akan jatuh miskin, nyatanya memang ini bagian terpenting yang harus kulewati bersama istri dan anakku karena dosaku berhutang.

 

Jika saja aku tak mengadakan perjanjian itu, hidupku, istri dan anakku mungkin lebih indah dari sekuntum bunga.

Maafkan aku, istriku dan anakku; kalian korbanku yang lain.

Persembahan hidupku hanya pada tembakau yang diiris tipis dan dilinting dengan kertas, aku seperti kalap jika tak bertemunya.

Aku sudah tahu tak ada hal yang berguna dari tembakau itu, tapi aku tergila-gila padanya.

Tapi waktu ku mungkin bisa dihitung dengan jariku yang selalu bergetar jika tak menyulutnya

 

Maafkan aku, istriku dan anakku; kalian korbanku yang tiada lelah mengingatkanku pada Tuhanku.

 

Aku tak peduli anakku punya pakaian bagus atau tidak, makan atau tidak, sakit atau tidak, bahagia atau tidak, sedih atau tidak, takut atau tidak.

Aku tak peduli lelahnya istriku menggantikanku menjadi pencari nafkah, aku tak peduli banyaknya hutang istriku, aku tak peduli rindunya istriku, aku tak peduli sedihnya istriku, aku tak peduli bahagainya istriku; yang ku peduli, dia harus penuhi kebutuhanku.

 

Aku pun berpikir untuk akhiri hidup, Aku tak berdaya; ku kira ini saatnya luruskan langkah

Aku ingin kembali, Aku ingin bertemu Tuhanku.

Aku minta ampun padanya, pada istriku, pada anakku, karena aku telah egoin bertindak.

Aku tak tahu harus apa? Aku hanya ingin bebas dari hutangku.

 

 Medio, 19 Februari 2026


Selasa, 20 Desember 2022

POETRY ON THIS MONTH DECEMBER22

 

BURDEN CLAP

By Diah Trisnamayanti

My creation picture human mindset

Each man must have conflicts

In his life

It’s piece of cake when you have

Been as underdog one of comunity

More going adult, more over burden

Is known by all human willingness;

Even in their bottom of his heart

And blood.

Each case has each solution

Each man has different way to do

Each way has own handling clap level

All difficulties have some necessary tricks

Onto struggling life.

Happy is one of your way

To find and overload thing face of life.

 

medio Rancabolang, 5 December 2022


#Poetry

#MGMPBahasaInggrisKotaBandung

#Poet

#KelasKreatif


POETRY ON THIS MONTH DECEMBER 22

 

TROOPS

By Diah Trisnamayanti

My picture in Japan Kingdom film

Steps drop togetherness

Swinging your tight easily

In your leg

More axis of move and

flexible body

your chest are widely

strong to lift the gun

with the good rhythm

onto your troops

makes everyone

look your amazing

group

 

your work isn’t only

twisted and grizzled

the legs, hand bodies and gun

but more than that

 

medio Rancabolang, 5 December 2022


#Poetry

#MGMPBahasaInggrisKotaBandung

#Poet

#KelasKreatif



POETRY ON THIS MONTH-DECEMBER22

 

FIGHTER

By Diah Trisnamayanti



My picture in Japan Kingdom film



Zingggg... the mortar combat’s

flying on the flame zone;

          Wash the body with blood

Over the bullets burglarizing human

Bodies.

          This sins rushes to attach

Him.

          No taglines were promoted life of world

          No taglines were stopping

steps through heaven.

          Arousing soul makes you

Get the impact of human life

At all in dying body

          All are silent when you ask

for helping there


medio Rancabolang, 5 December 2022





#Poetry

#MGMPBahasaInggrisKotaBandung

#Poet

#KelasKreatif

Rabu, 14 Desember 2022

MY POETRY IN DECEMBER 2022 "UPSTAIRS-DOWNSTAIRS"

           

UPSTAIRS-DOWNSTAIRS

                                       

My creation upstairs-downstairs picture

                          by  Diah Trisnamayanti


                Screaming out all things will absolutely
                come out through the patients
                Some other pick up
                The thrills and drills are going around in my brain
        
                My eyes stop dazzling 
                on tap of moving flash
                
                             Just repeating the scrawled
                             bricks and irons crushing
                             without being shame

               But It's so busy noise
               for coming soon  in learning class
               It's so disturbing the breath



                                           Bandung, 5 December 2022

#Poetry

#MGMPBahasaInggrisKotaBandung

#MGMPBahasaInggrisSMKSMedikacom

#Poet

#KelasKreatif


Minggu, 24 Januari 2021

#Day25Jan2021AISEIWritingChallangeAsaDalamBejana

 




Cahaya Mentari

Semburat cahaya membangunkanku dalam tidur lelap.

Langkah kaki kecil perlahan

Menggugahku untuk membuka mata

Membuka jiwa

Membuka hari

Membuka lembaran pengalaman baru.

 

“Jangan kau ingat sejarah itu”

Kata seseorang.  

Mengapa?  

Sejarah tidak perlu dan tidak bisa dibuang

 

Ayo cari

Cari ...

Cari ...

Hidup itu harus mencari

Keberkahan Allah.

Sesak dada, menempel melanglang buana

Entah dimana

Menari di atas awan impian lebih menyenangkan

Dari pada menanti harapan

Terputus di jalan cahaya.







Hujan Embun

Pagi bulan Januari,

Aku terbangun dari lelap.

Kokok ayam tetangga

Rumahku

Berteriak

“Subuh”

“Ayo, Bangun”

“Wahai Manusia!”

 

Kudengar memang

Kumandang Adzan.

Astagfirullah !!

Niatku,

Semalam setelah lelap akan bangun

Di tengah malam

Mendekatkan

Pada Illahi robbi

 

Apa daya.

Subuh menjelang, embun merapatkan titik-titik

Kesegaran pagi di ujung daun

Dan bertebar jatuh

Ke tanah yang telah digarapnya

Kemarin

 

Ku harap pagi ini

Mereka tetap mengguyur keberkahan

Di tanahku

Tanpa memandang apapun

Aku akan berlari meski hujan embun membasahiku dan tanahku

Aku kan raih sebagai ikhtiarku di muka bumi.

Asa itu tak pernah hilang dalam dada

Jika tak ada hari ini

Mungkin esok

Jika tak ada esok mungkin lusa

Begitu anganku mengembara diantara hujan embun

Dalam  

Seribu langkahku

Dan do’a-do’aku.

 

Jatinangor, 24 Januari 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diam

Kabut berselimut rintik hujan.

Tidak deras

Tidak membanjir

Tidak mengalir.

 

Ribuan umat wafat;

Tak kenal politikus,

Tak kenal sastrawan, tak kenal artis,

Tak kenal siswa

Tak kenal rakyat jelata,

Tak kenal nestapa

 

HukumNya

Tak terelakan.

Katamu kau akan tinggal seribu tahun?

Katamu kau akan mewarisi harta bapakmu?

Katamu kau akan mewarisi harta ibumu?

Katamu kau akan meraih sejuta mimpi

Katamu

Katamu

Katamu

Sejuta katamu

Dapat kau rangkai dengan bebas

HukumNya

Jika sudah waktunya semua tak ada arti

Kecuali kebaikan

Kecuali do’a-do’a yang terpanjatkan

Kecuali do’a-doa tersembunyi

Dari orang yang

Tak kau ketahui

 

HukumNya kekal;

Gunung-gunung

Berkejaran memuntahkan

Rasa

Tanah yang kau pijak

Patuh

Pada perintahNya

Air yang tenang itu;

Menarikan gelombang bahaya

Binatang berlarian

Mencari peneduh

 

Masih kah kau merasa

Hampa

Masihkah kau merasa paling berkuasa?

Masihkah kau nikmati berkahNya?

 

Bersyukurlah..

Bersyukurlah...

Bersyukurlah....

Engkau bukan dianggap kuat olehnya

Tetapi Engkau belum siap

Jalani hidup akhiratNya

Diam

Dalam diam

Diam dalam diam

Diam dan diam dalam tiap diam

Adalah renungan berarti;

Matamu,

Hatimu,

Lakumu,

Gambarkan maksud hatimu melihat

Semua...

 

Semua milikNya

Tak terelakan

Serahkan jiwamu,

Ragamu,

Tangismu,

Asamu,

Do’amu,

Senyummu,

Hanya UntukNya.

 

Jatinangor, 24 Januari 2021

 

Asa Dalam Bejana

Kata dia

“Nanti, Kau akan kubelikan rumah”

Kata dia

“Rumah mana saja yang kau pilih

Ambillah untukmu”

 

Terlunasi hutangmu padaku

Dengan mencicil

Kataku

“Tak apa; dia belum berizki

Kali ini”

 

Sekedar janji untukku

Tak apa, semua pasti sudah menjadi kebaikan

Untuknya.

 

Dia menutup gagang telpon

Ketikaku coba hubungi

Orang yang kucinta

Kata dia

“Tak ada warisnya untukmu lagi”

Kataku

“Ya, kumengerti.”

Kata dia

“Tak usah kau datang lagi”

Kataku

“Orang yang kucinta tak kan lupa meski engkau menutupi

Deritaku tak boleh jumpa padanya”

Aku tahu; tak ada harta dalam genggamku,

Aku tahu; tak ada maklumat dalam katanya,

Aku tahu; tak ada waktuku menghampiri beliau,

Yang kucinta...

Aku tahu; janjiku padanya untuk merawat putranya

Bukan janji padamu, tapi pada TuhanKu

 

Biarlah

Asa ini menyebrangi awan dan lautan mimpi

Demi bertemu orang yang kucinta

 

Biarlah

Asa ini melarung pada bejana hati

Di hari-hari berkabungku

 

Biarlah

Asa ini Cuma kupanjat sebagai do’aku

Untukmu dan beliau semua

 

Biarlah

Asa ini mampir dalam gelombang fatamorgana

Di gurun kesedihan

Biarlah

Asa ini menyatukan sabar

Tuk sematkan kebajikan bersama.

Mungkin ini

Yang harus kulewati

 

Mungkin ini

Nikmatnya berjuang meniti cerahnya

surgaMu

 

Mungkin ini tarung sebenarnya

Pada ego

 

Mungkin ini didikan Illahi untuk capai

Jalan lurusNya.

 

Kusampaikan rasa maafku

Padamu

Jikaku

Tak beri khabar

Karena ku

Tak ingin beliau tahu

Deritaku;

Kutitip salam rindu padamu.

Jainangor, Minggu 24 Januari 2021

 

 

 

Lari sana, lari sini

Cari sana, cari sini

 Terbang sana, terbang sini

   Renang sana, renang sini

Tenggelam sana, menyelam ke sini

             Terangkut, terantuk

                 Tersungkur, terjerembab

Mencari 1 dollar

Seperti mencari jarum dalam jerami

                Keliling dengan gerobak es

                “DOGER..”

                “DOGER ..”

                        Di siang saat gerimis terhenti.

Keliling dengan gerobak buku

Di dalam awan listrik

        Yang tergambar lewat khayal

Keliling dengan wajan dan spatula

Goreng seafood, goreng pete,

Goreng sayur, goreng babat

Goreng

Goreng

Asa

Dalam tabung

        Raih 1 dolar; berhari-hari didapat

        Jumlahku merambat

        Memahat

                Kuingin bayar lunas

                 Sametan sebelum hembus akhir nafas

Kutakut cambukMu melukai Ibuku

Ayahku,

Mertuaku,

Kakakku,

Adikku,

 

Perjalanan kaki sudah capai 6000 tapak

Tak mampu bertahan

Menatap   

        Gemuruh emosi dan erosi sikap yang

        Realis;

        Tanpa malu bergayut di benak dan kepala

        Bahkan jadi pedoman sebagian orang.

Yakinlah

Allah lebih berkuasa

Memberikan tempat dan sejuta

Jawab

Dari asa yang terbang kian kemari

Menutupi nasib baik hidup

 

 

Jatinangor 24 Januari 2021

 


Jumat, 11 Desember 2020

#Day12DesAISEIWritingChallengePertiwiVSVirus

 






Sambil terkantuk-kantuk di tengah malam buta, saya coba mengantarkan kata  atau kalimat yang hanya untaian ketika saya merasakan kesedihan mendalam sebagai pendidik. Salahkah saya ketika mendidik? Sehingga banyak putri-putri kita lebih memilih bergincu kimia di banding memakan sirih saat ini.  Gincu alami dari “Nyepah” lebih cantik dan bermanfaat bagi imun tubuh manusia; Kecuali Pinang yang harus dikonsumsi sesuai kebutuhan dan tidak dengan tembakau karena justru mengakibatkan munculnya sel kanker.

Saya tuliskan puisi ini untuk gadis-gadis belia menyambut hari ibu tanggal 21 Desember 2020; fenomena yang terjadi saat ini mereka masih berperilaku yang tidak menjadi panutan bagi anak-anaknya kelak. Hitam legam kehidupan sesorang, karena dia tidak mempelajari agamanya dengan penuh ikhlas. Hidup itu bukan untuk hari ini, besok saja tetapi nanti ketika waktu yang ditentukan Tuhan telah digariskan.

Allah hanya mengingatkan bahwa yang mampu membantu gadis-gadis/ wanita-wanita (termasuk saya) itu adalah amalan kebaikan, do’a anak-anak yang sholeh, Ilmu yang bermanfaat. Ku sampaikan pesanku padamu.

Dulu wajahmu dipoles bedak

Sedikit, cantiknya bukan main

Bibir berlapis gincu dari pinang, gambir dan sirih

Terasa pahit,

Tapi kau kuat dan tetap cantik.

 

Dulu.. sekali

Kakimu tak beralas,

No problem.

Terik mentari tak membuatmu gentar

Jalan terus pantang mundur.

Demi sesuap nasi untuk anak-anak

Kamu rela memanggul beban kayu bakar, teh,

lontong, pecel untuk dijual

pada tengkulak dan tuan tanah.

 

 

 

Kini

Tidur di tikar rumbia

Bagai orang yang tak punya apa-apa

Menangis tersedu-sedu

Ingin intan dan berlian di

Pergelangan kaki.

 

Lucunya dirimu,

Tak alang buatku tertegun sesaat.

Itukah kamu sekarang?

 

Wajah penuh peluh oil

Gincumu; gincu buatan pabrik

Buat bibirmu makin menyon ke kanan atau ke kiri.

Tak pantas mematut diri jika untuk Pamer pada lelaki.

Tabu!!

Nenek moyang kita berkata.

Hargai dirimu

Jaga dirimu

Jauhi kerlap-kerlip hidup

Yang tak penting

Tapi kau berlari menghamba

Pada lembaran merah dan biru

 

Kubaca lagi dari gelap terbitlah terang,

Beliau harap,

Dirimu jadi penerang

Anak-anakmu kelak;

Bukan menjadi gelap

Dengan

Bantai diri dan anak-anakmu.

 

Salahkah aku?

         Alif, ba, ta, tsa..

         Hanya itu yang kamu tahu?

         Salahkah aku?

         Bagaimana anak-anakmu makan kelak?

         Haruskah dengan cara yang sama?

         Naudzubillah.

 

         Iqro’

         Bacalah atas nama Tuhanmu

         Bacalah bumi,

         Bacalah air,

         Bacalah udara,

         Bacalah perilakumu,

         Bacalah tuntunan Hidupmu.

        

        Tak ada waktu berkemas.

        Vrus menyerang membabi buta

        Tak kan sempat menyelamatkan diri

        Tak kan mampu melawan pasukan

        Tak kasat mata,

         Mereka ada

         Mereka bergerilya

         ke dalam sel manusia.

         Memakan imunmu

 

         Apakah kau sadar?

         Allah ciptakan

        Agar kita semua

        Membaca..

        Bergerak..

        Menguatkan diri

        Melapisi dengan tawakal Ilallah

Ayun kan kaki dalam

          Damai

             Istighfar tanpa henti, dzikir pada-Nya,

             Vitamin jiwa yang tak pupus hingga

             Dia menyerang hati dan parumu.

       Ku harap                    Sendu itu hilang dari peraduan

           Hingga 

        Sangkakala ditiupkan

            

Medio Sumedang, 20 Desember 2020