Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.

Selasa, 13 Oktober 2020

Challenge AISEI #Day8AISEIWritingChallengeMenjelangSenja_CeritaBersambung

 NOVEL



Rumah No 19 Jalan Melati

Sore itu nampaknya amat indah terlihat, di ufuk barat warna mentari mulai bertemu di peraduan terlihat jelas mencerahkan dengan kilauan cahayanya. Bungah hati Suci setelah seharian memberikan bekal bagi pemuda-pemudi di desa Mekargalih.

“Assalamu’alaikum!” sapanya saat melangkahkan kakinya ke rumah kontrakannya yang dipenuhi dengan furniture tua dan murah. Dia masih bersyukur, masih bisa membayarnya setiap tahun meskipun sang suami tercinta telah meni-nggalkan dunia saat usia Suci Suminar genap enam puluh tahun dan baru saja pensiun sebagai seorang guru waktu itu. Sekarang sudah hampir lima tahun berselang. Dia masih berdagang sayur matang untuk membiayai kehidupannya bersama kedua putra-putri serta dua orang cucunya dari putra pertamanya yang tinggal bersama dia. Sang suami tercinta tak meninggalkan warisan apapun untuk anak mereka kecuali ilmu.

“Wa’alaikum salam” sahut Byoryta putrinya yang baru selesai S2 jurusan Arsitektur di Swiss dan baru beberapa minggu di desa Mekargalih.

          “Bu, tadi ada telpon dari Bulek Syamsi”

 “Oh ya. Apa katanya nduk?”

          “Bulek Syamsi Cuma bilang kangen aja, bu”

Syamsinar adalah adik Suci saat dia bilang kangen pasti terjadi sesuatu sama dia. Suci tidak berpikir panjang langsung mencari handphone dan no Syamsinar.

          “De, assalam’alaikum”

         “Iya mbak,” suara berat Hadi suami Syamsinar menjawab.

         “Tadi Syamsinar telpon. Ada apa de?

         “Ga papa ko, mbak.”

         “De Hadi, pasti terjadi sesuatu. Kalian sehat semua? Sekarang ada di mana?”

        “ Di rumah sakit mbak.”

        “ lhah.. kan, Rumah sakit mana? Siapa yang sakit?”

        “Syamsinar, mbak. Jantungnya kumat lagi. Di Rumahsakit Meditrania depok mbak?”

        “Ruang berapa?”

        “3401”.

        “ya. Udah, aku ke sana ya. Sekarang ditutup ya.”

        “Byori...!!” teriaknya.

        “Kamu bisa anter ibu ke rumah sakit Meditrania Depok,  ga nak?” teriaknya setelah menutup gagang telpon. Dia gamit HP dimasukkan ke tas dan buku tabungan yang dia sisihkan untuk kontrakan dan impiannya naik haji tahun depan. Byori tergopoh-gopoh menemuinya di kamar.

        “Ada apa emangnya bu?” masih terdengar hela nafas karena lari dari halaman depan dimana warung makanan matang ibunya sedang dia tunggui. Saat itu pula terdengar gerung mobil milik Binar, pemuda yang selalu bersama Byori saat kuliah di Universitas Negeri sampai  Byori kuliah di Swiss dari beasiswa yang diberikan universitasnya, dia selalu membantunya. Meskipun Byori terkadang bingung dengan status mereka ketika ditanya oleh kawan-kawannya, mereka selalu menjawab kompak sahabat baik.  

        “Bulekmu sakit nduk, dia adik ibu satu-satunya; adik ibu yang mendukung ibu saat ibu difitnah dulu, nduk. Yuk anter ibu.”

        “Iya, bu. Tuh Binar datang.” Byori menyahut penjelasan ibunya. Kakak iparnya Raena dan keponakannya yang mengikuti Byoripun mengangguk-angguk. Byori langsung keluar menemui Binar.

        “Mas Binar, anter ibu yuk. Ibu minta aku nemenin dia ke Rumah sakit Meditrania Depok. Mas tahu kan tempatnya?” jelas Byori ke Binar dengan lembut

        “Hmmm, yuk” senyumnya bijak dan tangannya menjentikkan ke hidung Byori. Binar langsung balik ke mobilnya yang mulus dan terbaru. Sementara Byori langsung ambil tas dan segala kelengkapannya. Kemudian melangkah ke kamar ibunya.

       ”Tante, nanti jangan lupa ya, beliin Ice cream di Mc D, aku pengen tante” kata Lunar merajuk. Adiknya, Cerina  pun ikut-ikutan.    

       “Lunar.. Cerina...  sini sayang, tantemu kan mau ke rumah sakit bukan jalan-jalan.” “ Udah de Byori, ga usah didengar ponakan kamu.. “ tambah Raena menjelaskan. Byori senyum lihat tingkah ponakan-ponakannya itu.

       “mbak, aku anter ibu dulu ya. Kasih tau mas Do. Nanti suami mu itu nanyain ke aku terus... hehehe” canda Byori sambil menggamit tangan ibunya menuju ke mobil Binar. Binar mempersilahkan Suci duduk di belakang sementara Byori di depan bersamanya. Suci berharap cemas saat Binar mengantarkannya ke pintu rumah sakit dan mencarikan kamar 3041.

       “Byori.. benar tidak kamarnya ini?” tanya Binar berbisik di dekat Byori

       “Namanya bukan Syamsinar. Kamu gimana? Kasihan tuh ibu naik turun”

       “Iya, kayaknya nomornya salah deh ibu kasih taunya.”

       “Ibu, tadi ibu dengernya nomor Bulek Syamsinar berapa?”

       “Kenapa memangnya nak?”

       “ibu kasih tau Binar 3041. Ibu telp dulu nak.”

       “Ga usah bu. Byori aja yang cari di informasi” sahut Byori sambil meninggalkan ibunya duduk di bangku tunggu. Binar mendampingi Byori


#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100katabercerita

#Pendidikbercerita


10 komentar:

your opinion