Mengenai Saya

Foto saya
I love writing, learning, cooking, watching some cartoon films such, sponge Bob, naruto, the legend of Aang.

Jumat, 09 Oktober 2020

Lomba Blog Dalam Rangka Bulan Bahasa & Sumpah Pemuda #PGRI#KOGTIK#EPSON#KSGN


SEKOLAH RAMAH ANAK

By

Diah Trisnamayanti, S. S.

Latar Belakang

Sejatinya sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak yang sedang belajar mencari ilmu untuk menghadapi masalah.  Rumah itu adalah tempat perlindungan yang terbaik karena di dalamnya ada tempat yang dapat membuat anak mengambil inspirasi tentang impiannya.

seorang anak butuh berbagai proses untuk memahami kehidupan yang penuh dengan problematika dan harus memahaminya dari berbagai sudut pandang  pemikiran dan  latar belakang keluarganya. Kesulitan yang muncul adalah proses ketidaktahuan sang anak terhadap problem yang ada di hadapannya dan proses mengurai permasalahan hingga tuntas diselesaikan. Pengidentifikasian masalah perlu diketahui agar anak mampu mengemas respon penyelesaian dengan santai, bahagia dan tuntas.

Anak kebanyakan hanya menyadari problema bila berkenaan dengan mata pelajaran  saja. Ada yang membuatnya “bete” alias “ bad mood”, penyelesaiannya dengan cara cukup meninggalkan, ada yang membuatnya malas cukup dengan mengabaikan dan ada yang berpikir cara cepat dan mudah melalui contekan. Semua memang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Sayangnya bukan hanya itu problematika remaja alias anak, ada yang berkaitan dengan integrasi sosial, self-confidence dan self-emotionnya.

Bisa diperhatikan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) tahun 2011 – 2014 meningkat dari 2178 kasus menjadi 5066 , atau

terjadi peningkatan 133% dalam kurun waktu 4 tahun.Sehingga secara umum di tanah air, kasus kekerasan , kejahatan dan

tindak kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia cenderung meningkat. 1)

 

Melihat banyaknya korban kekerasan, kejahatan dan kekerasan seksual dari anak-anak Indonesia perlu dipahami bagaimana menghadapi hal semacam ini. Kita bisa mengerti tentang apakah yang dimaksud dengan kekerasan, kejahatan dan kekerasan seksual tersebut.  Ini dijelaskan di dalam panduan MPLS-MOS SMA-SMK-MA kota Bandung 2018.

[Apa yang di maksud dengan kekerasan, kejahatan dan tindak kekerasan seksual? Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis, termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan martabat anak yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat dipercaya. 2)

1)         Panduan Pengenalan MPLS-MOS SMA/SMK/MA tahun 2018, Latar Belakang Masalah, halaman 1, alenia 2.

2)         Panduan Pengenalan MPLS-MOS SMA/SMK/MA tahun 2018, Latar Belakang Masalah, halaman 1, alenia 3.

 

            Tindakan kekerasan merupakan perbuatan yang dapat menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis, termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan martabat anak.

Ini dimaksudkan  bukan semata-mata untuk memanjakan anak (siswa) tetapi agar anak-anak lebih menyadari bahwa hidup itu harus saling menyayangi.  Sekolah menyediakan sarana Bimbingan dan Penyuluhan untuk membina siswa/siswi menjadi lebih dari sebelumnya.

Ketika ada penyelenggara sekolah yang antara lain adalah guru/tenaga pendidik/tenaga kependidikan/pengelola melakukan hal yang dianggap sebagai “tindakan kekerasan merupakan perbuatan yang dapat menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis, termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan martabat anak”  pasti sudah melalui pemahaman terhadap sikap dan perilaku siswa/siswi yang tidak ada perubahan. Bila hal itu terjadi guru/tenaga pendidik/tenaga kependidikan/pengelola berhak melecut siswa tersebut untuk memotivasi dan mengubah cara pandang siswa yang salah tentang hidup dan kehidupan.

Guru/tenaga pendidik/tenaga kependidikan/pengelola memiliki payung hukum yang kuat untuk melakukan hal tersebut di atas. Di bawah ini peraturan hukumnya:

Peraturan Pemerintah yg melindungi Guru dalam melaksanakan tugas nya adalah PP No. 74 tahun 2008. Hal ini perlu diindahkan oleh Murid/Wali Murid, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT)

Bunyi Pasal/Ayat tentang guru...

1 Pasal 39 ayat 1.

"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya,"

Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

2 Pasal 40.

"Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing,"

 

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.

3 Pasal 41.

"Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain,"

 

Tentunya, hal ini merupakan tanggungjawab besar guru/tenaga pendidik/tenaga kependidikan/pengelola dunia akhirat. Mereka harus menjaga, membina dan mendidik siswa/siswi di sekolahnya dengan lebih santun, lemah lembut dan tegas.

 

Qur’an surat :

At Tahrim (66) ayat 6           

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengatakan:

“ Ibu, ayah, guru dan masyarakat bertanggungjawab di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala kelak tentang pendidikan generasi penerus mereka. Jika mereka telah melaksanakan yang terbaik, niscaya sang anak dan mereka akan bahagia di dunia dan akhirat. Tetapi apabila melalaikan pembinaannya, niscaya akan celaka, dan dosa akan berada di pundak-pundak mereka” 3)

Kejadian Yang Biasanya Terjadi di Sekolah.

Siswa/siswi perlu mengantisipasi untuk menghadapi identifikasi kejadian semacam ini.

1.      Kejadian iseng

2.      Kejadian manggil nama orang tua

3.      Kejadian timpuk-timpukan kertas

4.      Kejadian cari peluang kabur

1.      Kejadian bolos sekolah

2.      Kejadian malas bangun pagi

3.      Kejadian malas kerjakan tugas

4.      Kejadian mencontek

5.      Kejadian mengambil tugas orang lain untuk kepentingan dirinya

6.      Kejadian mem”bully” siswa lain yang dianggap “Cupu”

7.      Kejadian telat ke sekolah

8.      Kejadian berkata kotor

9.      Kejadian adu mulut

10.  Kejadian bersikap tidak sopan

11.  Kejadian mengejek pakaian, wajah, tubuh dan pekerjaan

12.  Kejadian berbohong tentang diri, orang lain, dan keadaan

13.  Kejadian pencurian

14.  Kejadian berkumpul di tempat parkiran

15.  Kejadian menghakimi orang lain yang belum tentu kesalahannya

16.  Kejadian bermain api

17.  Kejadian merokok

18.  Kejadian menggunakan narkoba

19.  Kejadian berantem dengan jurusan yang berbeda

20.  Kejadian pelecehan seksual

21.  Kejadian asusila

22.  Kejadian melecehkan agama di Media Sosial

23.  Kejadian perang di media sosial

24.  Kejadian meng-hack akun orang lain

25.  Kejadian mencaci maki orang lain di akun media sosial

26.  Kejadian berpura-pura melakukan tindakan kekerasan untuk memperoleh simpati publik dengan menyebarkannya di media sosial

 

Semua kejadian tersebut di atas bukan rekayasa. Itu lah yang terjadi bahkan mungkin yang belum disadari lebih banyak lagi. Kehidupan fana ini merupakan cara kita semua mengenal Allah, mengenal tuhanNya. Seberapa besar kita memahami aturan yang diberikan Allah akan terlihat melalui cara, pola pikir, dan perwujudannya dalam kehidupan seorang manusia.

 

Manusia yang diberi peran oleh Allah sebagai Istri dan anak-anak bisa menjadi musuh bagi ayahnya sendiri. Sikap berhati-hati (waspada) itu dapat memberikan keindahan dalam menjalani kehidupannya. Allah itu amat dekat dengan umatNya dan penuh kasih sayang. Sayangnya terkadang manusia tiada menyadarinya bahwa semua itu adalah nikmat Allah.

 

Allah mengungkapkan di dalam surat At-Taghaabun (64) ayat 14:

Bukan berarti harus dimusuhi tapi bagaimana mengarahkan kembali menjadi sesuai kodratnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Kodrat manusia adalah ingin diperhatikan, disayang, dan dilemah-lembutkan.

Allah, tuhan pencipta seluruh alam semesta, aturan Allah dalam bersikap dan berperilaku antara lain:

1.      Prinsip Kasih Sayang pada semua makhluk Allah seperti manusia, jin, hewan darat/laut, bangsa burung dan lingkungan.

2.      Prinsip Lemah Lembut agar pertumbuhan jasmani dan psikisnya menjadi baik

3.      Prinsip Sanksi (Iqab)

Oleh karena itu, siswa/siswi yang baik dia akan menjauhi sikap atau pola pikir yang merugikan orang lain dan lingkungan. Setidaknya setelah menyadari adanya gejala bahwa dia termasuk dalam kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tersebut, belajar dengan perlahan untuk mendapatkan strategi baru sehingga dia lebih berguna di antara yang lain.

 

Budaya Berpikir Positif

Berguna untuk orang lain bukan berarti dia menjadi alat pemuas atau obyek bullying, tapi bermanfaat salah satu contoh sederhana:

1.      Ketika pada jam istirahat membantu petugas jaga koperasi yang sibuk meladeni pembeli alat tulis, fotocopy atau menjilidkan fotocopy-an dengan ikhlas. Selain dapat mengetahui proses kerja di tempat fotocopy, tentunya tahu bagaimana repotnya bekerja. Perlu strategi agar cepat, tepat dan benar. Kontrol diri pun mampu diaktifkan, ini akan memperoleh nilai tambah tentang kejujuran, kenyamanan seorang pembeli, menjaga harta orang lain, mengkomunikasikan metodologi dari apa yang diajarkan guru di kelas dan mencari jalan keluar saat masalah terjadi.

Pikiran positifnya tentu hanya ingin membantu memudahkan kerja orang lain. Bila ada marah dari pemilik, pikiran positifnya; itu adalah ilmu yang akan kita menjadi kuat mental dan tangguh menghadapi masalah sekecil apapun dari customer or leader untuk bekerja lebih baik dan santun.

2.      Bantuan menyebrangkan orang lain saat lalulintas padat yang notabene adalah tugas Satpam. Dengan kata-kata yang santun dan wibawa, satpam sangat berbahagia ada orang yang masih mau membantu pekerjaan mereka dan itu setingkat siswa. Apalagi bila siswa tersebut sangat mengenal dirinya yang memiliki power, membantu mengingatkan kawan-kawan untuk kembali pada tujuan awalnya sebagai pelajar yang belajar.

Positive Thinkingnya bahwa kebaikan yang satu jarah akan terbalas Allah lebih dari itu. Kedekatan dengan seorang Satpam, kita seberapa besar mereka menjaga siswa-siswi dari hal yang tidak diinginkan saat menyebrang jalan, saat di sekolah, saat mereka berada di wil parkiran, saat mereka berjalan dan lain lain.

3.      Bersedia mengajarkan orang-orang yang memiliki keterbatasan di kelas, baik anak-anak ADHD, atau keterbelakangan secara fisik maupun mental dengan penuh sabar.

4.      Membantu kesiswaan dengan menuruti peraturan yang ada agar terciptanya suasana kondusif dalam belajar dan bekerja.

5.      Membantu laboran untuk tidak membuang sampah di laboratorium, menjaga kebersihan laboratorium dan mengawasi teman-teman yang jahil terhadap alat-alat dan barang yang terdapat di dalam laboratorium, mengerjakan tugas sesuai waktu yang diberikan.

Bila tidak ada sampah tentu pembelajaran akan bisa langsung on. Tapi keadaan sebaliknya yang terjadi maka, guru akan memberikan hukuman yang tepat dengan keadaan yang tidak nyaman. Bau busuk pasti akan ada di seluruh ruangan itu dan akan membuat kalian menjadi tidak betah di ruangan kelas. Sudah pasti ilmu yang akan didapat menjadi berkurang.

6.      Membantu petugas kebersihan sekolah hanya dengan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, merapikan kelas, membuat indah kelasnya dan mengharumkan kelasnya.

Bila tidak ada sampah tentu pembelajaran akan bisa langsung on. Tapi keadaan sebaliknya yang terjadi maka, guru akan memberikan hukuman yang tepat dengan keadaan yang tidak nyaman. Bau busuk pasti akan ada di seluruh ruangan itu dan akan membuat kalian menjadi tidak betah di ruangan kelas. Sudah pasti ilmu yang akan didapat menjadi berkurang.

7.      Berkreasi untuk menumbuhkan kemampuan diri (self emotion) sesuai jurusan, bekerja sama dengan orang lain untuk menambah ilmu komunikasi lebih baik.

Dengan kreativitas, kalian bisa membuktikan kemampuan kalian menyerap ilmu agar bisa berguna bagi orang lain. Kebutuhan industri akan terserap dengan mudah bagi orang-orang yang kreatif dan jujur.

8.      Menetralisir bila orang lain tidak menganggap diri kalian memiliki kemampuan, latih lebih keras dan telaten sehingga orang lain yakin kalian memang bisa menjadi yang baru.

Pembuktian ketelitian dan kerajinan merupakan pangkal kalian dapat lebih unggul dari seorang cerdas sekalipun.

9.      Cerdas memilih teman.

Bila ada teman yang senang dengan main-main, kalian bermain hanya sesuaikan waktu kalian agar tidak seluruh hidup itu penuh dengan main-main. Ada kalanya kalian harus memahami keseriusan dalam mengerjakan semua kegiatan. Siapapun dapat menjadi teman, tetapi jangan tergantung pada teman, gantungan hidupmu hanya kepada Allah/Tuham

10.  Bekerja sama dengan teman sekelas dan menguatkan satu dengan yang lain tanpa harus melihat perbedaannya.

Setiap siswa memiliki kemampuan sendiri meski banyak perbedaan dengan latar belakang kalian yang ingin cepat selesai dan seterusnya, itu yang akan menguatkan arti sebuah pertemanan di dunia luar setelah selesai belajar di sekolah, bukan tidak mungkin orang yang paling tidak kita sukai mungkin adalah orang yang setia mendukung segala kehidupan kalian. Itu amat berarti ketika kalian ditinggalkan oleh orang-orang yang kalian sayang.  

 Pembentukan Karakter Diri

            Pedoman pembentukan diri berdasarkan pemahaman orang tua, guru dan  stakeholder untuk mengembangkan kekuatan setiap anak dalam mencapai tujuan hidup yang penuh barakah perlu dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa.

            Setidaknya perlu bimbingan yang mengarah dan mengkondisikan bahwa setiap langkah hidup siswa merupakan nilai kebaikan untuk dirinya dan sekitarnya. Semua yang didapat adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Ini berkaitan dengan pembelajaran amanah.

            Apapun yang menjadi kendala adalah pelajaran yang berharga bagi pola pikir siswa untuk menjadi positif thinking. Semuanya terpulang pada kemampuan diri tiap siswa dan jujur dalam mensikapi hidup. Inilah yang berkaitan dengan pelajaran fatonah.

            Kekuatan yang terpancar dari diri siswa/siswi merupakan ciri dirinya masing-masing. Rasa percaya diri akan muncul di dalam diri siswa/siswi dengan kekuatan yang diyakininya sebagai hal positif untuk lingkungan masyarakat banyak.

            Dengan segala, kemampuan diri ini tentunya siswa/siswi menjadi penuh tanggungjawab untuk selalu cinta tanah air dan mengembangkan postensi diri dalam sebuah lingkungan terdidik.



Daftar Pustaka

1)         Panduan Pengenalan MPLS-MOS SMA/SMK/MA tahun 2018, Latar Belakang Masalah, halaman 1, alenia 2.

2)         Panduan Pengenalan MPLS-MOS SMA/SMK/MA tahun 2018, Latar Belakang Masalah, halaman 1, alenia 3.

3)         Memperlakukan Anak dengan Lemah Lembut, http://almanhaj.or.id hal 1.

4.      Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) tahun 2011 – 2014 meningkat dari 2178 kasus menjadi 5066 , 

 






Kamis, 08 Oktober 2020

#Day3AISEIWritingChallengeKaryaTuntutlahIlmuSampaiKeNegeriCina .Bismillah

 

TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CINA


Ketika suatu hari Mrs. Yoko Takagi, temanku di  IAERN  mengunggah sebuah foto di facebook tentang aktivitasnya mengajar kelas sejarah saat itu yang ada di benakku “Betapa hebatnya beliau”, Seusia pensiun ibuku, beliau masih aktif memberikan ilmu kepada anak-anak yang sangat jauh usianya dari beliau di sebuah sekolah di negara sakura.  Akupun teringat sebuah hadist yang mengatakan “Tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina”. Pengajaran karakter dan budaya negara sakura, dimulai dari kecil, mereka terkenal disiplin, bukan sesuatu yang tiba-tiba. Latar belakang kehidupan keluarga di negara Jepang, mungkin tidak jauh berbeda dengan kita. Tetapi mereka lebih menghargai sejarah negaranya dan budaya mendengarkan pemimpin (Kaisar) serta orang yang lebih tua membuat mereka menjadi negara maju di asia, saya yakin pasti ada juga kekurangan mereka. Ambilah saja yang positifnya dari mereka.

                                            

            Beberapa waktu lalu dan masih sampai sekarang, pendidik diharapkan memasukkan kata dalam rancangan pembelajaran alias RPP dengan kata-kata berkarakter. Akan tetapi, jika diamati dalam prosesnya penekanan tersebut tidak muncul. Antara sekolah, orang tua dan lingkungan belum terlihat kekompakan dalam memproses pendidikan bagi siswa.

 Sekolah seharusnya memberikan program parenting yang terus-menerus bisa bersinergi baik pada orang tua dan lingkungan sekitar. Waduh jadi serius begini ya?! Ya sudah teruskan saja. Maaf ya, yang kurang suka serius.  Kali ini, saya ingin sedikit mengajak untuk berpikir. Tidak susah ko.  ðŸ˜€ðŸ˜€

Aku memang mudah terbawa suasana ketika anak-anak yang ceria bersekolah hanya melampiaskan hasrat mereka bermain. Sehingga sekolah hanya sebagai sarana tempat bermain yang tidak memproses mereka menjadi anak yang memang berbakat dalam bidang tertentu kalau bahasa kerennya Learning by doing.

      Boro-boro memikirkan bakat; berbicara dengan bahasa sopan saja, sepertinya sulit keluar dari mulut mereka. Karena lingkungan sekitar, memperkenalkan mereka budaya “kancing coplok” berulang-ulang dan menganggap biasa, bahkan tertawa setelah anak mengatakan hal tersebut. Sementara orang tua pengendali terakhir, terkadang marah berlebihan ketika anak menyebutkannya di depan mereka atau di depan komunitas.

         Dengan semangat yang tidak saling menyalahkan, paling tidak kita membangun konsep pendidikan karakter yang bersinergi. Sekolah harus siap membangun parenting link dan society link sehingga bisa membuat orang tua membaca materi yang diberikan bukan hanya mengkritisi kebijakan sekolah. Semangat membangun karakter bangsa, teman-teman! Thank you for giving me inspiration through My friend, Mrs. Yoko Takagi From IEARN Japan. 💖💪 I wanna be a tough teacher like you.


            

 

Rabu, 07 Oktober 2020

#Day2AISEIWritingChallengeKaryaAnakku, Membanggakanku. Bismillah

 

KARYA SISWAKU, MEMBANGGAKANKU


Gambar ini, satu hal yang buat saya terkaget-kaget. Waktu itu, beberapa guru di sekolah mengadakan kegiatan kolaborasi pembelajaran Kesenian, Bahasa Indonesia dan Sejarah dalam bentuk pertunjukan.

Anak-anakku tidak mengatakan apapun tentang pertunjukan. Saya kira mereka tidak akan berpartisipasi. Saya tahu mereka orang-orang yang lebih baik menyembunyikan kemampuannya dari pada memperlihatkan dengan kesombongan katanya. Lucu memang pemikiran mereka. Tahu-tahu poster ini terpajang di beberapa spot di sekolah. Jidatkupun berkerut. Dalam benakku “ ko ada tulisan kelas XI RPL A: ????” Jadilah, saya menanyakan dengan penuh ingin tahu kepada temanku  Guru Bahasa Indonesia. “Bu, kok ada poster tulisan kelas XI RPL A?, Memang ada apa? Anak-anakku memang ikutan pertunjukan?” temanku pun menjawab “Ih si Ms gimana, anak-anakmu kan berbakat. Itu poster kegiatan sejarah dan kegiatan lainnya juga ada. Diantara kelas lain, mereka yang terbaik grafisnya; Ms Lihat deh nanti ya. Ini aku kasih karcis masuknya”

Cuma tersipu malu saja diriku. Di satu sisi, mereka jahil pada teman-temannya, mereka juga ternyata menjahili wali kelasnya. Mereka sengaja tidak menyampaikan agar bisa kasih surprise buat wali kelasnya.

Air mataku jatuh karena lebih terharu saja ketika anakku barep di kelas XI RPL A itu adalah siswa berkebutuhan khusus yang usianya jauh di atas anak-anak yang ada saat itu. Dia mau berakting di depan temannya yang lain tanpa malu dalam pagelaran drama satu babak bahasa Indonesia dan Kesenian. Pada hal bicara saja tidak jelas. Motorik halusnya tidak bejalan dengan baik, tetapi dia sangat penurut. Terkadang sedih melihatnya menjadi bulan-bulanan ketika saya tak berada di dekatnya.Tidak ada yang lebih membanggakan kecuali mendorongnya terus maju hingga berhasil mengepakkan sayap lebih lebar di dunia ini. Terbanglah nak sejauh yang kau bisa melakukannya, mendaratlah jika kau lelah. Perhatikan sekeliling agar engkau tahu, banyak orang bahagia melihat mu. Aku bangga kalian dengan karya-karyamu dimanapun itu.

#Day2AISEIWritingChallengeKaryaAnakku, Membanggakanku.



Selasa, 06 Oktober 2020

Teacher Challenge from Viera #SMKEnglish Challenge2020 #IAMCONFIDENTwithTOEIC #SMKBISAHEBAT #TOEICIndonesia #TOEICOfficial

 COMPETITION

IS IT IMPORTANT TO CONSOLIDATE THE VIRTUAL CLASS?

By Diah Trisnamayanti

A Virtual Class or the other name is learning from home as a learning model by using sophisticated technology in communication devices. When Covid 19 pandemic is getting rose cases, the virtual class model is a target model approval lesson from primary, secondary, until  higher education. Everyone really improves to do the virtual engagement, all people make a new concept about it and so many things around the school and education, made by this sophisticated model with all new products. All level people are going to be more attention through the things which should be done or learnt but it’s not tough to stick out. The polemic finally gets surround pulse and internet quota in Indonesia.

When it is taken from the positive impact, technology is indeed giving a hand  to developed education. Both students and teachers are improving their basically technology’s skill. The demand of Virtual classroom, virtual meeting, searching material, video or film maker, audio visual usages rises. Automatically provider companies and content creators compete tightly by adding some newest features of the tools. The features are intentionally going to be easier to the users because of its sophisticated modifying tools. However it’s sometime coming one’s way, it can be hard time to come over, then what the reality sends is not actually the same with what the natural meeting in the class to enjoy the classroom. It’s finally not quite strong enough to get the point of lesson . 

Whereas after virtual class was approved by running the class model till slowly down over pandemic situation, teachers must make some alternated creatively material so that the students will not face the bored situation which arises stagnant moody behavior through their virtual class. Blended learning method is planning against it in order to make the lesson is shorter, effective, and joyful. Teachers automatically have a lot of effort to catch and apply through acknowledge in many creative contents for having this hopeful challenging moment into students by becoming whatever they could be even though it’s actually not their own world. This is the biggest challenge upon teachers or educators,who expect to improve quality for students, is going to chase newest technology for the goal. They becomes video maker, video editor, short film maker, acting as actor and actress, main and supporting actor/actress or producer. All works are done for being cynosure students in order to consistently direct their students, at least it changes student’s point of view about something in joyful concept. By these efforts, students can also be expected to compete, struggle, be patient, tough and careful against their life. In contrary fact, no all have the same idea between one teacher to another so that blended learning tendency could be harsh to applicable completely working out.  Each teacher has sometime different concept meanwhile blended learning needs working as a team and compactness idea. Seem pity indeed, it can be shown up through education society in pandemic digital era. How shall it go on continuously in order that the real and the behavior instinct have got an absorbing student’s life?

Frankly, to teach attitude for being polite, discipline, tough, patient, responsible, tolerant is more difficult rather than to teach English structure; but it doesn’t mean it can be, of course.  Beside nowadays teachers, who are expected to influence students for better attitude, must educate them on virtual approach;  before the pandemic situation, teacher has a harm to strengthen and train them to be more  better directly. Why? Because they are so difficult to be educated is that they have a diversity in family background and atmosphere and neither does in giving  reward and punishment because of their attitude among other above, not in being the same engagement. Therefore their critically thinking is not established comprehensively influence in their own zone.  It’s, of course, predictable the building character what teachers have planned which can’t appear in their daily activities both in school, house and scope; therefore this is the complicated things when teacher must give a positive impact from virtual behavior. Moreover teachers are not a shiloute who can interpenetrate through space in the same time for all students. The sample what the writer will express is factual in Whatssapp group’s chat, many students ask or tell without introducing first, and talk to their teacher such they talk with their friends, use their own slank word sometime without respecting to elders or adults. Nothing is a mistaken thing, but how to control them needs indeed more long time and process. Then teachers get some challenging things to overcome the process which is not a simple case as what anyone’s seen. To bring up requiring process is not short term and to transfer acknowledgement needs tactic and strategy, these are which are unspoken among lesson-teachers. The discussion is only around how the video performance, not discussion about how students actually think in their mind when  seeing the blended lesson video? Whether is amazed performance or caught core target from the lesson? Perhaps this begins to endorse when the teachers need becoming professional teachers. The writer is a generally teacher also comforts through Idol K-POP and K-Drama hard work by their performance, which can be accepted and noticed the song’s lyrics/ story as the easiest and comprehended writing by the artist itself or author, where expresses young man feeling about something and how to react obviously onto the manner against it; I can really learn more from all young men created SM Entertainment, which belongs to K-Pop International School as a training place for the chosen young men. They work 24 hours, get wet from their sweat in their training gym class just to practice many choreographers around the song they made in order that other people can take the benefit as their hard working. Learning many languages to entertain is prepared for all members so that many audiences (netizens) feel loved and respected by their idol. The young men are around 14 - 28 getting some training till they are expert in their field and can be patient for their debut. The core which they spread is about learning as hard working has to train patiently, effectively and cheerfully. Finally, K-pop and K-drama Idol are indeed famous in five continents.

Teacher isn’t a famous core necessity, but innovation and creativity in lesson packaging is the goal. Everyone can be a teacher. However a completely teacher will suppose to liven up frustrating and having overfulliness when his students can’t respond as what he expects. It becomes usually refraction meanwhile he meets against the funniest student’s attitudes. Teacher has only trust and confident principal, to conquer student’s heart. It’s not being weakness through students, who are subdued by their teacher, are more respectable what their teacher does to be more closer, more recognizing, and more understanding them in many situations. However there is more extremely to say because they have been frustrated against the pandemic,  so then they begin to accept firmly their teacher.

Anywhere the word often heard and delivered by the students to handle pandemic situation is frustration. In fact, it’s not students who have frustration atmosphere, sometime teacher and parents are too.  Otherwise it needs communicating obviously freshly; both teacher, parents and students. If students got frustration because of being less for playing time, teachers frustrate due to be able for student’s absorbing material onto the thoughtful of blended learning or no task responds or unresponding class meeting, ignorance for the lesson. Parents have frustration because of embarrassing for unresponsive kid in learning class or given task, irresponsibility upon the house activity, hard to make them set up all things for their life, a lot of playing game and late for taking a nap,  suppose adult,  difficult in being discipline while they must pay the school fee as usual and so on. The sample case based on true story, there was coming up a student at pandemic lately in virtual class at  2 – 5 times a month, no task order done, tending against the existing rule, trying to escape from the batlle-axe mother by climbing or camping.  How hard parents asks to force their kid for realizing his annoyed attitude, so it’s what he was done against them. Teenager doesn’t like curiosity of what he likes or done, he also dislikes supposing a baby, doesn’t understand the situation, dislikes advice for long term or forbids all things. Meanwhile teacher and parents are in adult position, they are awry position; when they don’t keep in touch or keep watching the students/kid, they would feel sorry after the bad things in negative side had happened upon them/him. This is the time for communicating between students, parents and teachers. This can be firmly, regularly and softly. It depends on the case and family educated background.

Therefore, teachers, parents and students have a deal with what they will do. Positive and negative consequences  as the reward and punishment should also be deal with them to apply for consolidation in building up soul improvement through good behavior and it can be synergy onto the action. Not different in teachers, school and government or parents as people society, district/region and center government have also to make a deal with each other. Consolidation is necessary to see how far the norm which runs on applying life in society and how to overcome the gap between them. Appreciation as reward must have been power to run the applicable policy. The appreciation is usually chaining on wages/money orientation reference. To spring competitive spirit in society needs a based benchmark achievement from a unit of neighborhood’s board, citizen association, until the region/district unit. It means that education is not only chained around students and school, but also society around the school is necessity to have an applicable platform which is not just a sheet of letter. Practically sample in a region must have many unities of neighborhood board, citizen association, Headman of district, Sub-district, Regent, Mayor, Governor.  Whether the biggest contribution from school through the community depends of consolidation for example, A’s school enhances the level for   attitude and behavior of the peddlers or mini market owners surround the school. The leader of  the community above should give the punishment through both the peddlers and shop owners who ignore to a school rule for bad behavior students and the other side, they can give a reward to the peddlers and shop owners who help stand by the school’s rule by giving incentive capital for their business from UMKM.

This’s  time to change method for learning session in school and community. Keep spirit for the life challenge. I hope we can do the better life after applying the hard effort.

 

#SMKEnglish Challenge2020 #IAMCONFIDENTwithTOEIC #SMKBISAHEBAT #TOEICIndonesia #TOEICOfficial

BELAJAR DAN BEKERJA BERSAMA ANAK DI SEKOLAH #Day1AISEIWritingChallengeSiswaku, Anakku

SISWAKU, ANAKKU


]
           

Awalnya menyenangkan, bertemu anak-anak muda dengan binar di mata menandakan adanya kehidupan cemerlang di masa depan. Kesan selama setahun, dua tahun sampai tiga tahun bersama mereka, meyakinkan saya anak-anak ini pintar tetapi kesulitan belajar mereka tidak bisa mereka kenali.  Seminggu, sebulan mulai ada yang gugur. Tidak tahan dengan suasana kelas katanya. Ada yang gugur karena malu, kebisingan dan takut dengan konsekwensi.

Kalau pecinta tanaman hias pasti kenal yang namanya tanaman gelombang cinta. Nah saya sudah telanjur terkena gelombang cinta dengan anak-anak; jadi ya lanjutin dan nikmati saja kebingungan menghadapi tingkah mereka.

Tidak hanya yang masih berada di TK sampai yang sudah kuliah masih saja menjadi bagian dari kehidupan ini. Senangnya, merekam kembali jejak-jejak bersama mereka. Perjalanan menghadapi mereka adalah pengalaman kehidupan yang sangat berharga bagiku. Berbagai persoalan yang diberikan Allah,  terekam dalam kehidupan yang bergelombang asa. Kadang naik, kadang turun. Jet coster kehidupan adalah tantangan yang perlu disiasati dan dicari solusinya.

Saya tidak perlu serius menghadapi tetapi dijalankan. Mereka, anak-anaku, pelajar ini memiliki kualitas kemampuan yang begitu luar biasa. Kepekaan mereka terhadap kehidupan dan diri sendiri memang perlu dikenali polanya. Siapapun bisa menghadapinya asalkan belajar mengatur emosi diri saat bertemu dengan trik-trik anak tanggung seperti mereka. Ada kalanya mereka melakukan karena mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikan satu permasalahan yang muncul dalam diri mereka.

            Menyadari mereka sudah bukan lagi anak-anak adalah usaha awal pendekatan kepada mereka, belum tentu mulus kelanjutannya meski ketika awal pendekatan sudah lancar jaya. Ketertutupan diri mereka karena mereka punya anggapan jika ada masalah; keluarga tidak perlu tahu. Bila keluarga tahu, itu amat memalukan. Sayangnya, karena kurang membaca situasi, referensi dan motivasi; yang dirasakan mereka justru membuat mereka makin galau. Inginnya ditanya, tetapi tidak ada yang bertanya. Inginnya disapa, tetapi tidak ada yang menyapa. Galau tingkat tinggi maka larinya menjadi bucin alias budak cinta. Jadilah mereka mencari tambatan hati dan muncullah pernyataan “Hanya dia satu-satunya yang bisa mengerti”, seperti penggalan dari kisah-kisah roman. Begitulah anak muda, dibilang masih kecil; badan mereka bongsor-bongsor, tetapi di kelas senangnya berkejaran satu dengan yang lain, atau menjaili temannya dengan mengambil pulpen yang tergeletak sebentar. Kenangan terindah bersama mereka tak pernah luntur dalam ingatan seorang wali kelas.



Jumat, 25 September 2020

TEACHER'S WRITING COMPETITION FROM VIERA

 COMPETITION

PENTINGKAH KESEPAKATAN BELAJAR?

Oleh Diah Trisnamayanti


Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang kata lainnya Belajar dari Rumah (BDR) merupakan pola belajar dengan menggunakan tekhnologi terbarukan di bidang telekomunikasi.  Ketika pandemi Covid-19 makin bertambah kasus kemunculannya, Pembelajaran Jarak jauh menjadi sasaran utama dalam pelaksana pendidikan di tingkat dasar, menengah sampai dengan pendidikan tingkat tinggi. Ramai-ramai melaksanakan virtual meeting, ramai-ramai membuat konsep sendiri tentang virtual meeting dan banyak hal lain yang berhubungan dengan sekolah, pendidikan dibuat dengan gaya teknologi kekinian. Banyak kalangan menyoroti hal yang harus dan tidak diajarkan saat pandemi tetapi tidak kokoh mencuat. Polemiknya akhirnya hanya berkisar pada pulsa atau kuota internet.

Jika ditilik dari sisi positifnya, teknologi memang sangat membantu sekali memajukan pendidikan. Baik siswa maupun guru semakin meningkat kemampuan berbasis teknologi. Penggunaan virtual classroom, virtual meeting, searching material, video or film maker, audio visual meningkat. Sudah pasti perusahaan provider dan penyedia konten juga bersaing ketat, meningkatkan dan menambah fitur-fitur terbarunya. Niatnya, Fitur-fitur tersebut mempermudah pengguna karena kecanggihanya. Tetapi terkadang keadaan sebaliknya, justru menyulitkan, ternyata apa yang ingin disampaikan saat tatap muka langsung menjadi tidak menyenangkan. Tidak tepat sasaran akhirnya. 

Apalagi setelah PJJ ini ditetapkan untuk dilaksanakan sampai pandemi mereda. Guru harus membuat materi-materi sekreatif mungkin agar tidak membuat jenuh siswa selama PJJ. Metode blended learning diprogramkan agar membuat pembelajaran memiliki waktu yang singkat, efektif dan menyenangkan. Guru secara otomatis berusaha keras menambah ilmu di bidang yang bukan dunianya. Ini tantangan besar bagi guru-guru. Guru, yang berharap besar pada peningkatan kualitas anak didiknya, akan mengejar kemampuan teknologi pembuatan video atau film singkat, menjadi editor video atau film singkat pembelajaran, berakting, menjadi pemeran utama atau menjadi produser. Tujuannya tidak lain selain menjadi pusat perhatian siswa dari apa yang semestinya diajarkan sehingga tetap mengarahkan siswa, setidaknya sedikit mengubah cara pandang siswa tentang sesuatu dengan konsep yang menyenangkan. Siswa juga diharapkan tetap memiliki rasa persaingan, perjuangan, keshabaran, ketegaran dan ketelitian dalam menghadapi dilema kehidupan. Tetapi tidak semuanya memiliki pemikiran yang sama,  antara satu guru dengan guru yang lain maka kecenderungan blended learning sulit terwujud sempurna karena tiap guru terkadang memiliki konsep berbeda sementara blended learning membutuhkan kerjasama dan kekompakan diantara pelaku pembelajaran ini. Miris memang, itulah yang ada di masyarakat pendidikan di era digital masa pandemi. Bagaimana selanjutnya agar pembelajaran benar-benar blended antara ilmu dan perilaku?

Sejujurnya, mengajarkan sikap sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain; lebih sulit dibanding mengajarkan kalimat bahasa Inggris dengan rumusan tertentu; tapi bukan berarti tidak bisa. Sementara guru yang diharapkan mengembangkan serta mendidik sikap-sikap itu harus menggunakan virtual sekarang ini; saat sebelum pandemi saja, guru sulit sekali menekankan dan mendidik sikap sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain secara langsung. Mengapa? Karena mereka punya latar belakang pendidikan orang tua dan lingkungan yang berbeda, pemberian Reward dan Punishment karena tidak bersikap  sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain tidak dilakukan dengan kesepakatan yang sama. Sehingga pemikiran kritis mereka juga tidak terbangun secara utuh di pergaulan mereka.  Sudah bisa dipastikan, pendidikan karakter disiplin, peka, toleran, shabar, kuat, tegar dan sopan yang tidak akan muncul dalam keseharian mereka di lingkungan rumah, lingkungan bermain, dan lingkungan belajar, inilah yang mempersulit guru mengajarkan pendidikan karakter pada virtual classroom. Apalagi guru tidak bisa menembus ruang dan waktu bersamaan pada semua siswanya; Sebagai contoh, di group chat Whatssapp, banyak siswa yang justru bertanya atau bercerita tanpa memperkenalkan diri dahulu, dan berbicara dengan guru, layaknya teman sendiri, menggunakan kata gaul cenderung tidak menghormati kepada yang lebih tua kadang kala. Tidak salah, tetapi mengendalikannya butuh waktu dan proses yang lumayan lama. Kembali Guru ditantang menyelesaikan proses yang tidak sederhana seperti tangkapannya. Mendidik membutuhkan proses yang tidak sebentar dan mentransfer ilmu membutuhkan taktik dan strategi, inilah yang tidak didiskusikan diantara guru mata pelajaran. Diskusi hanya berkisar bagaimana performance videonya, bukan diskusi tentang kira-kira apa yang ada di benak siswa ketika melihat video kita? Takjub performancenya atau langsung kena sasaran materinya? Ini yang seharusnya mulai digalakkan jika ingin menjadi guru yang maju. Penulis adalah guru yang juga penikmat kerja keras Idol-idol K-POP dengan performance mereka, yang bisa dinikmati dan diperhatikan lirik lagu yang ditulis dan disampaikan oleh mereka, mengungkapkan bagaimana anak muda seharusnya; benar-benar banyak belajar dari anak-anak muda besutan SM Entertainment, yang memiliki K-Pop International School sebagai tempat untuk melatih anak-anak muda pilihan. Mereka bekerja 24 jam, bersimbah peluh dalam melatih gerakan tari mereka sehingga orang lain bisa mengambil hikmah sebagai kerja keras. Belajar bahasa entertain dari negara-negara yang akan dikunjungi sehingga banyak penikmat atau kata lainnya netizen menjadi lebih dihargai oleh idolnya.  Para pemuda usia antara 14 - 28 melakukan pelatihan sehingga mereka ahli di bidangnya dan bershabar untuk debut. Inti yang mereka sebarkan kurang lebih yaitu belajar sebagai  bentuk kerja keras yang harus dilatih dengan shabar, efektif tetapi menyenangkan hati. Wajar saja bila para Idol K-POP akhirnya famous di lima benua.

Guru bukan famous yang diperlukan, tetapi inovasi dan kreatifitas dalam mengemas pembelajaran. Siapapun bisa menjadi guru. Tetapi seorang guru seutuhnya, akan merasakan frustasi yang meningkat dan mengalami kejenuhan bila siswa-siswinya tidak merespon seperti yang diinginkan. Itu biasanya menjadi bias bila sudah bertemu dengan kelucuan dari tingkah siswa-siswinya. Guru hanya memiliki modal keyakinan dan percaya diri saja, untuk menaklukkan hati anak-anaknya. Bukan karena melemah siswa-siswi tersebut mau ditaklukan oleh guru, lebih pada menghargai kerja keras gurunya yang bersedia mendekat kepada mereka, mengenali dan memahami situasi mereka. Akan tetapi ada yang lebih ekstrim mengatakan karena sudah frustasi menghadapi bencana,  maka mereka mulai menerima dengan terpaksa kehadiran gurunya.

Boleh jadi kata yang paling sering disampaikan oleh siswa saat menghadapi situasi bencana seperti ini adalah kata frustasi. Ternyata bukan hanya siswa yang frustasi, terkadang guru dan orang tua menghadapi keadaan yang tidak diinginkan bisa menjadi frustasi.  Di sini perlunya komunikasi dengan pemikiran jernih; baik guru maupun orang tua pun sama. Apabila siswa frustasi karena masa bermainnya yang kurang, guru frustasi karena siswanya tidak mampu menyerap materi yang dipikirkan dalam blended learning atau tugas-tugas yang diberikan belum lagi sering tidak memberikan respond saat masuk jam belajar, bersikap masa bodoh dengan pelajaran. Orang tua frustasi karena malu bila siswanya diinformasikan tidak masuk dalam kegiatan pembelajaran atau tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, makin semau gue saat di rumah, sulit membangunkan mereka karena kebiasaan tidur malam pada anak-anak remaja belasan tahun, yang menganggap dirinya sudah dewasa, sulit mendisiplinkan anak-anaknya sendiri, sementara spp tetap berjalan seperti biasa dan seterusnya. Contoh kasus yang terjadi berdasarkan pengalaman, ada seorang siswa saat pandemi hanya masuk pembelajaran kurang lebih 2-5 kali dalam sebulan pembelajaran, jarang mengerjakan tugas, bersikap menentang peraturan yang ada, mencoba lari dari kebisingan dengan mendaki gunung atau camping. Seberapa keras orang tua meminta anaknya menyadari perilaku yang menjengkelkan, seperti itulah mereka akan bersikap kepada kita. Anak remaja kurang suka dikepoin alias dicari tahu apa yang dia suka atau yang sedang dilakukan, dia juga tidak suka dianggap anak kecil, tidak mengerti situasi, dinasehati berlama-lama atau dilarang banyak hal. Sementara guru maupun orang tua ada di posisi adult, terkadang juga serba salah saat orang tua atau guru tidak melakukan pemantauan atau pengawasan ada saja yang terjadi dan bukan positif yang dilakukan. Inilah yang perlu dikomunikasikan diantara anak dan orang tua atau siswa dengan guru. Komunikasi itu bisa tegas, bisa juga sedang atau melemah. Semua tergantung kasus dan latar belakang pendidikan di dalam keluarga tersebut.

Oleh karena itu, antara guru, orang tua dan siswa memiliki kesepakatan bersama untuk apa yang akan dilaksanakan bersama. Konsekuensi positif (reward) dan negatif (punishment) juga perlu disepakati bersama agar terjadi sinergi dalam pelaksanaanya. Tidak jauh berbeda kepada guru, sekolah dan pemerintah atau masyarakat (orang tua), pemerintah daerah dan pusat. Kesepakatan sangatlah penting untuk melihat seberapa jauh norma yang dapat diterapkan dan bagaimana mengatasi kesenjangan yang terjadi diantaranya. Penghargaan sebagai reward harus menjadi kekuatan lain dalam pelaksanaan kebijakan yang berlaku. Penghargaan biasanya acuannya adalah honor. Untuk memunculkan jiwa kompetitif di dalam masyarakat perlu patokan dasar capaian dari satu Rukun Tetangga, Rukun Warga sampai dengan ke Desa. Artinya pendidikan jangan hanya sekedar pengaitan siswa dengan sekolah, tetapi masyarakat dengan sekolah juga perlu dibuatkan platform. Contoh dalam satu wilayah pasti ada RT, RW, Lurah, Camat, Bupati/Wlikota, Gubernur.  Kontribusi paling besar dari sekolah yang ada di sekitar itu apa, sekolah A memperbaiki tatanan sikap dan perilaku penjual-penjual di sekitar sekolah. Ketua RT/RW/Lurah/Camat/Gubernur memberikan tindakan tegas kepada pedagang keliling maupun menetap yang membiarkan siswa binaan suatu sekolah melakukan tindakan tidak terpuji dan memberikan reward tambahan modal atau kemudahan mendapatkan insentif dari UMKM bagi pedagang yang bisa bekerjasama dengan siswa untuk menjaga sikap baik dan positif, tidak menipu dan lain-lain.

Dari hal tersebut, kearifan lokal dapat tergali. Kelurahan B dengan jumlah RW 25, RT 50, dan Kepala keluarga kaya, menengah, miskin sebanyak 500 sampai dengan 600 dapat menghasilkan aliagrem (makanan khas Jawa Barat) sebanyak 300 kwintal untuk siap dipasarkan bekerjasama dengan SMK C di bagian boga, SMK E di bagian Rekayasa perangkat lunak, SMK F di bagian penghitungan keuntungan. Aliagrem buatan bersama harus diuji kadar vitamin dan lain-lain, pemerintah dan Universitas bisa membantu menguatkan. Apabila daerah tersebut akan membuat produk lain selain makanan sebagai kearifan lokalnya, sebaiknya ambil produk mesin/ alat pembuat aliagrem/ tungku/ pisau/pengocok telur agar persaingan dengan desa lain semakin beragam dan pemanfaatan sekolah peluangnya lebih besar. Wilayah ini pun dapat menyerap tenaga kerja SMK-SMK untuk membuka usaha atau  ini juga harus memiliki kematangan berpikir yang tidak ambisius pada keuntungan sepihak tetapi bersama. Mulailah dengan kesepakatan, pertimbangan, kebijakan dan pelaksanaan yang mencerahkan masyarakat.    TANTANGAN KESPAKATAN DALAM BELAJAR

Oleh Diah Trisnamayanti

 

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang kata lainnya Belajar dari Rumah (BDR) merupakan pola belajar dengan menggunakan tekhnologi terbarukan di bidang telekomunikasi.  Ketika pandemi Covid-19 makin bertambah kasus kemunculannya, Pembelajaran Jarak jauh menjadi sasaran utama dalam pelaksana pendidikan di tingkat dasar, menengah sampai dengan pendidikan tingkat tinggi. Ramai-ramai melaksanakan virtual meeting, ramai-ramai membuat konsep sendiri tentang virtual meeting dan banyak hal lain yang berhubungan dengan sekolah, pendidikan dibuat dengan gaya teknologi kekinian. Banyak kalangan menyoroti hal yang harus dan tidak diajarkan saat pandemi tetapi tidak kokoh mencuat. Polemiknya akhirnya hanya berkisar pada pulsa atau kuota internet.

Jika ditilik dari sisi positifnya, teknologi memang sangat membantu sekali memajukan pendidikan. Baik siswa maupun guru semakin meningkat kemampuan berbasis teknologi. Penggunaan virtual classroom, virtual meeting, searching material, video or film maker, audio visual meningkat. Sudah pasti perusahaan provider dan penyedia konten juga bersaing ketat, meningkatkan dan menambah fitur-fitur terbarunya. Niatnya, Fitur-fitur tersebut mempermudah pengguna karena kecanggihanya. Tetapi terkadang keadaan sebaliknya, justru menyulitkan, ternyata apa yang ingin disampaikan saat tatap muka langsung menjadi tidak menyenangkan. Tidak tepat sasaran akhirnya. 

Apalagi setelah PJJ ini ditetapkan untuk dilaksanakan sampai pandemi mereda. Guru harus membuat materi-materi sekreatif mungkin agar tidak membuat jenuh siswa selama PJJ. Metode blended learning diprogramkan agar membuat pembelajaran memiliki waktu yang singkat, efektif dan menyenangkan. Guru secara otomatis berusaha keras menambah ilmu di bidang yang bukan dunianya. Ini tantangan besar bagi guru-guru. Guru, yang berharap besar pada peningkatan kualitas anak didiknya, akan mengejar kemampuan teknologi pembuatan video atau film singkat, menjadi editor video atau film singkat pembelajaran, berakting, menjadi pemeran utama atau menjadi produser. Tujuannya tidak lain selain menjadi pusat perhatian siswa dari apa yang semestinya diajarkan sehingga tetap mengarahkan siswa, setidaknya sedikit mengubah cara pandang siswa tentang sesuatu dengan konsep yang menyenangkan. Siswa juga diharapkan tetap memiliki rasa persaingan, perjuangan, keshabaran, ketegaran dan ketelitian dalam menghadapi dilema kehidupan. Tetapi tidak semuanya memiliki pemikiran yang sama,  antara satu guru dengan guru yang lain maka kecenderungan blended learning sulit terwujud sempurna karena tiap guru terkadang memiliki konsep berbeda sementara blended learning membutuhkan kerjasama dan kekompakan diantara pelaku pembelajaran ini. Miris memang, itulah yang ada di masyarakat pendidikan di era digital masa pandemi. Bagaimana selanjutnya agar pembelajaran benar-benar blended antara ilmu dan perilaku?

Sejujurnya, mengajarkan sikap sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain; lebih sulit dibanding mengajarkan kalimat bahasa Inggris dengan rumusan tertentu; tapi bukan berarti tidak bisa. Sementara guru yang diharapkan mengembangkan serta mendidik sikap-sikap itu harus menggunakan virtual sekarang ini; saat sebelum pandemi saja, guru sulit sekali menekankan dan mendidik sikap sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain secara langsung. Mengapa? Karena mereka punya latar belakang pendidikan orang tua dan lingkungan yang berbeda, pemberian Reward dan Punishment karena tidak bersikap  sopan, disiplin, tegar, bershabar, bertanggungjawab, menghargai orang lain tidak dilakukan dengan kesepakatan yang sama. Sehingga pemikiran kritis mereka juga tidak terbangun secara utuh di pergaulan mereka.  Sudah bisa dipastikan, pendidikan karakter disiplin, peka, toleran, shabar, kuat, tegar dan sopan yang tidak akan muncul dalam keseharian mereka di lingkungan rumah, lingkungan bermain, dan lingkungan belajar, inilah yang mempersulit guru mengajarkan pendidikan karakter pada virtual classroom. Apalagi guru tidak bisa menembus ruang dan waktu bersamaan pada semua siswanya; Sebagai contoh, di group chat Whatssapp, banyak siswa yang justru bertanya atau bercerita tanpa memperkenalkan diri dahulu, dan berbicara dengan guru, layaknya teman sendiri, menggunakan kata gaul cenderung tidak menghormati kepada yang lebih tua kadang kala. Tidak salah, tetapi mengendalikannya butuh waktu dan proses yang lumayan lama. Kembali Guru ditantang menyelesaikan proses yang tidak sederhana seperti tangkapannya. Mendidik membutuhkan proses yang tidak sebentar dan mentransfer ilmu membutuhkan taktik dan strategi, inilah yang tidak didiskusikan diantara guru mata pelajaran. Diskusi hanya berkisar bagaimana performance videonya, bukan diskusi tentang kira-kira apa yang ada di benak siswa ketika melihat video kita? Takjub performancenya atau langsung kena sasaran materinya? Ini yang seharusnya mulai digalakkan jika ingin menjadi guru yang maju. Penulis adalah guru yang juga penikmat kerja keras Idol-idol K-POP dengan performance mereka, yang bisa dinikmati dan diperhatikan lirik lagu yang ditulis dan disampaikan oleh mereka, mengungkapkan bagaimana anak muda seharusnya; benar-benar banyak belajar dari anak-anak muda besutan SM Entertainment, yang memiliki K-Pop International School sebagai tempat untuk melatih anak-anak muda pilihan. Mereka bekerja 24 jam, bersimbah peluh dalam melatih gerakan tari mereka sehingga orang lain bisa mengambil hikmah sebagai kerja keras. Belajar bahasa entertain dari negara-negara yang akan dikunjungi sehingga banyak penikmat atau kata lainnya netizen menjadi lebih dihargai oleh idolnya.  Para pemuda usia antara 14 - 28 melakukan pelatihan sehingga mereka ahli di bidangnya dan bershabar untuk debut. Inti yang mereka sebarkan kurang lebih yaitu belajar sebagai  bentuk kerja keras yang harus dilatih dengan shabar, efektif tetapi menyenangkan hati. Wajar saja bila para Idol K-POP akhirnya famous di lima benua.

Guru bukan famous yang diperlukan, tetapi inovasi dan kreatifitas dalam mengemas pembelajaran. Siapapun bisa menjadi guru. Tetapi seorang guru seutuhnya, akan merasakan frustasi yang meningkat dan mengalami kejenuhan bila siswa-siswinya tidak merespon seperti yang diinginkan. Itu biasanya menjadi bias bila sudah bertemu dengan kelucuan dari tingkah siswa-siswinya. Guru hanya memiliki modal keyakinan dan percaya diri saja, untuk menaklukkan hati anak-anaknya. Bukan karena melemah siswa-siswi tersebut mau ditaklukan oleh guru, lebih pada menghargai kerja keras gurunya yang bersedia mendekat kepada mereka, mengenali dan memahami situasi mereka. Akan tetapi ada yang lebih ekstrim mengatakan karena sudah frustasi menghadapi bencana,  maka mereka mulai menerima dengan terpaksa kehadiran gurunya.

Boleh jadi kata yang paling sering disampaikan oleh siswa saat menghadapi situasi bencana seperti ini adalah kata frustasi. Ternyata bukan hanya siswa yang frustasi, terkadang guru dan orang tua menghadapi keadaan yang tidak diinginkan bisa menjadi frustasi.  Di sini perlunya komunikasi dengan pemikiran jernih; baik guru maupun orang tua pun sama. Apabila siswa frustasi karena masa bermainnya yang kurang, guru frustasi karena siswanya tidak mampu menyerap materi yang dipikirkan dalam blended learning atau tugas-tugas yang diberikan belum lagi sering tidak memberikan respond saat masuk jam belajar, bersikap masa bodoh dengan pelajaran. Orang tua frustasi karena malu bila siswanya diinformasikan tidak masuk dalam kegiatan pembelajaran atau tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, makin semau gue saat di rumah, sulit membangunkan mereka karena kebiasaan tidur malam pada anak-anak remaja belasan tahun, yang menganggap dirinya sudah dewasa, sulit mendisiplinkan anak-anaknya sendiri, sementara spp tetap berjalan seperti biasa dan seterusnya. Contoh kasus yang terjadi berdasarkan pengalaman, ada seorang siswa saat pandemi hanya masuk pembelajaran kurang lebih 2-5 kali dalam sebulan pembelajaran, jarang mengerjakan tugas, bersikap menentang peraturan yang ada, mencoba lari dari kebisingan dengan mendaki gunung atau camping. Seberapa keras orang tua meminta anaknya menyadari perilaku yang menjengkelkan, seperti itulah mereka akan bersikap kepada kita. Anak remaja kurang suka dikepoin alias dicari tahu apa yang dia suka atau yang sedang dilakukan, dia juga tidak suka dianggap anak kecil, tidak mengerti situasi, dinasehati berlama-lama atau dilarang banyak hal. Sementara guru maupun orang tua ada di posisi adult, terkadang juga serba salah saat orang tua atau guru tidak melakukan pemantauan atau pengawasan ada saja yang terjadi dan bukan positif yang dilakukan. Inilah yang perlu dikomunikasikan diantara anak dan orang tua atau siswa dengan guru. Komunikasi itu bisa tegas, bisa juga sedang atau melemah. Semua tergantung kasus dan latar belakang pendidikan di dalam keluarga tersebut.

Oleh karena itu, antara guru, orang tua dan siswa memiliki kesepakatan bersama untuk apa yang akan dilaksanakan bersama. Konsekuensi positif (reward) dan negatif (punishment) juga perlu disepakati bersama agar terjadi sinergi dalam pelaksanaanya. Tidak jauh berbeda kepada guru, sekolah dan pemerintah atau masyarakat (orang tua), pemerintah daerah dan pusat. Kesepakatan sangatlah penting untuk melihat seberapa jauh norma yang dapat diterapkan dan bagaimana mengatasi kesenjangan yang terjadi diantaranya. Penghargaan sebagai reward harus menjadi kekuatan lain dalam pelaksanaan kebijakan yang berlaku. Penghargaan biasanya acuannya adalah honor. Untuk memunculkan jiwa kompetitif di dalam masyarakat perlu patokan dasar capaian dari satu Rukun Tetangga, Rukun Warga sampai dengan ke Desa. Artinya pendidikan jangan hanya sekedar pengaitan siswa dengan sekolah, tetapi masyarakat dengan sekolah juga perlu dibuatkan platform. Contoh dalam satu wilayah pasti ada RT, RW, Lurah, Camat, Bupati/Wlikota, Gubernur.  Kontribusi paling besar dari sekolah yang ada di sekitar itu apa, sekolah A memperbaiki tatanan sikap dan perilaku penjual-penjual di sekitar sekolah. Ketua RT/RW/Lurah/Camat/Gubernur memberikan tindakan tegas kepada pedagang keliling maupun menetap yang membiarkan siswa binaan suatu sekolah melakukan tindakan tidak terpuji dan memberikan reward tambahan modal atau kemudahan mendapatkan insentif dari UMKM bagi pedagang yang bisa bekerjasama dengan siswa untuk menjaga sikap baik dan positif, tidak menipu dan lain-lain.

Dari hal tersebut, kearifan lokal dapat tergali. Kelurahan B dengan jumlah RW 25, RT 50, dan Kepala keluarga kaya, menengah, miskin sebanyak 500 sampai dengan 600 dapat menghasilkan aliagrem (makanan khas Jawa Barat) sebanyak 300 kwintal untuk siap dipasarkan bekerjasama dengan SMK C di bagian boga, SMK E di bagian Rekayasa perangkat lunak, SMK F di bagian penghitungan keuntungan. Aliagrem buatan bersama harus diuji kadar vitamin dan lain-lain, pemerintah dan Universitas bisa membantu menguatkan. Apabila daerah tersebut akan membuat produk lain selain makanan sebagai kearifan lokalnya, sebaiknya ambil produk mesin/ alat pembuat aliagrem/ tungku/ pisau/pengocok telur agar persaingan dengan desa lain semakin beragam dan pemanfaatan sekolah peluangnya lebih besar. Wilayah ini pun dapat menyerap tenaga kerja SMK-SMK untuk membuka usaha atau  ini juga harus memiliki kematangan berpikir yang tidak ambisius pada keuntungan sepihak tetapi bersama. Mulailah dengan kesepakatan, pertimbangan, kebijakan dan pelaksanaan yang mencerahkan masyarakat.